Terpopuler
-
Sanggul adalah rambut tambahan yang diberi dasar berbentuk bulat seperti tatakan gelas agak kecil, yang dibuat dari kain gaas, kada...
-
Abdi dalem & lambang Kraton Dalam sistem pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat abdi dalem yang membantu Sult...
-
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sejak disahkannya UU No 13 Tahun 2012, Yogyakarta resmi mempunyai payung hukum tentang Keistimewa...
Jumat, 11 Mei 2018
Letak Grografis Kraton Jogja Dalam Sebuah Pantun Mijil
Sebuah Pantun Mijil menggambarkan letak geografis kraton secara populer seperti dibawah ini :
Kali Nagga Pancingkok ing Puri
Gunung Gamping Kulon,
Hardi Mrapi ler Wetan Prenahe,
Candi Jonggrang Mangungkang ing Kali
Palered Magiri
Girilaya Kidul
Artinya :
Sungai Winanga membelok (kekanan) waktu mendekati Kraton (puri), Gunung Gamping terletak disebelah barat, sedangkan Gunung Merapi letaknya disebelah timur laut.
Candi Jonggrang dibangun dekat pinggir kali (opak), Pleret (ibu negeri Mataram dulu). Magiri (tempat makam raja-raja mataram) dan Girilaya (Gunung Kidul) terletak disebelah selatan (kraton).
Sumber :
Buku " Arti Kraton Yogyakarta" oleh KPH Brongtodiningrat diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia oleh R. Murdani Hadiatmaja.Tahun 1978
Minggu, 30 April 2017
Filosofi Baju Peranakan khas Kraton Ngayogyakarta
Abdi dalem mengunkan baju peranakan
Mereport dari tulisan mas @salimafillah
PERANAKAN
Baju Peranakan
Selain surjan, dari kata Arab
"siraajan", yang berarti menjadi pelita, jenis lain busana gaya
Mataraman Yogyakarta ada yang disebut "Peranakan".
Surjan adalah pakaian taqwa yang berciri ujung lancip sebagai simbol
permohonan bimbingan selalu menuju sirathal mustaqim; memiliki 3 pasang
kancing kerah tinggi yang melambangkan 6 rukun iman, sebab Dia lebih
dekat dari urat leher insan; punya 2 kancing di dada yang berarti
syahadatain; serta 3 kancing terutup di ulu hati sebagai penanda
disumbatnya 3 hawa nafsu; ammarah, lawwamah, dan syaithaniyah. Selain
surjan kusuma bermotif bunga yang sering dikenakan Sultan, surjan lurik
biasanya bergaris tiga; perlambang lurusnya hati, lisan, dan perbuatan.
Surjan Lurik
Surjan Lurik
Adapun Ageman Peranakan terbuat dari kain lurik tenun pengkol dengan
warna dasar biru tua mendekati hitam, yang bermakna kedalaman batin
bagai lautan, mampu menyimpan berbagai rasa hati demi menjaga harmoni
dan kenyamanan sesama, serta hanya mengadukan segala beban jiwa kepada
Allah Yang Maha Kuasa. Tenunnya bergaris biru muda telu (3) dan biru tua
papat (4), disingkat "telupat" yang bermakna Kewulu Minangka Prepat
dalam arti "direngkuh untuk menjadi saudara kandung yang mesra dan
saling memahami."
Ujung bawah Ageman Pranakan ini papak rata
melambangkan kesetaraan dan kebersamaan. Kancing lehernya 3 pasang
sebagaimana surjan, melambangkan rukun iman, sementara kancing di lengan
panjangnya berjumlah 5, penanda rukun Islam yang harus diamalkan dengan
segerak anggota badan.
Cara memakai busana pranakan ini khas,
yakni dengan mengangkat kedua tangan lurus ke atas, dimasukkan ke lengan
baju, lalu menyusul kepala dan seluruh badan. Ini karena "peranakan"
makna asalnya adalah "rahim", tempat di mana janin ditumbuhkan Allah
menjadi anak. Maka memakai busana peranakan adalah menghayati diri
sebagai seorang putra, memasuki perlindungan rahim yang kokoh, mengambil
semangat berbakti kepada Ibu; ibu kandung, ibu susu, ibu guru, dan ibu
pertiwi.
Penulis : Salim A Fillah
Share dari facebook
Penulis : Salim A Fillah
Share dari facebook
Filosofi Bebetan Kain Jarik
Pada kesempatan kali ini akan membahas tentang filosofi bebetan kain jarik yang pernah di tulis oleh ust @salimafillah. Jadi kali ini ceritanya merepost karena tertarik untuk diulas dan di buat file di blog ini.
BEBET: Membebat SYAHWAT
Melanjutkan
perbincangan tentang Busana Taqwa setelah uraian tentang Surjan dan
Peranakan, inilah kain yang kita kenakan sebagai bawahan. Salah satu
sebutannya "bebet", dibaca pepet seperti "e" pada "baper", jadi
memakainya disebut "bebetan".
Di
antara maknanya ialah bahwa perut dan bawah perut adalah markas syahwat
yang harus dibebeti, dibebat, dikendalikan agar tak liar. Kain ini
di-wiru, dilipat rapi pada bagian ujungnya yakni sebagai pengingat
terjaganya sifat wara'/wira'i. Ialah menjaga diri dari segala yang
dimurkai Allah, juga hal yang samar meragukan, bahkan dari hal mubah
yang berlebihan. Pada pria, ukuran wirunya 3 jari, sementara pada kain
dodot untuk perempuan adalah separuhnya. Yang kami kenakan ini adalah
wiru engkol, selain wiru lurus yang biasa dikenakan Sultan, penanda
lebih dituntutnya sifat istiqamah bagi pemimpin.
Bebet adalah perwujudan firman Allah;
"Adapun
orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa
nafsunya, surgalah tempat tinggalnya." (QS An Naazi'aat 40-41).
Motif
kain bebet biasanya disesuaikan kesempatan memakainya. Jika raja-raja
dikhususkan memakai Parang Rusak Barong rancangan Sultan Agung, berpola
lereng menanjak dan berbentuk seperti ombak, sebagai pengingat bahwa
hidup penuh ujian yang tiada henti, dan setiap saat kita harus mampu
memaknai sehingga iman terus dinaikkan, dikuatkan, mendaki menuju
keridhaan Allah.
Motif batik Wahyu Tumurun Yogyakarta
Maknya motif batik Wahyu Tumurun, artinya Nuzulul Quran,
yang dulu amat disukai Sultan Hamengkubuwana I untuk beri'tikaf
menyambut Lailatul Qadr.
Unsur-unsurnya adalah: -Redi (gunung bercahaya dengan gua di tengahnya; Jabal Nur & Gua Hira', tempat wahyu pertama turun)
-Elar (sayap malaikat)
-Sawung (ayam jago)
(tanazzalul malaaikatu warruuhu fiiha biidzni Rabbihim min kulli amrin, salaamun hiya hatta mathla'il fajr, QS Al Qadr)
-Ketopong (mahkota terbang), karena penghafal Quran dipakaikan mahkota yang bersinar melebihi cahaya mentari.
-Lung-lungan (cabang-cabang tumbuhan), sebab yang ashluha tsabit maka far'uha fissamaa' (QS Ibrahim 24).
-Kusuma
(bunga) & buah Sawo Kecik (sarwo becik, serba baik); sebab akhlaq
pembaca Quran harus harum mewangi & manis rasanya. (QS Ibrahim 25)
-Isen-isen
Keras (susunan batuan granit di pegunungan), sebagai pengingat bahwa
gunungpun akan hancur karena takut pada Allah jika Al Quran diturunkan
padanya (QS Al Hasyr 21). Dan jangan sampai hati kita mengeras bagai
batu; padahal di antara batupun ada yang di selanya mengalir sungai, ada
yang terbelah kemudian memancarkan air, & ada yang meluncur jatuh
karena takut pada Allah. (QS Al Baqarah 74)
Nah,
pasangan ikat pinggang untuk menguatkan bebatan kain ini disebut kamus
dan timang. Sebab taqwa harus diikat dengan ilmu. Ilmu yang pertama
diajarkan pada Adam adalah bahasa, isim-isim, kosakata, (Wa 'allama
Adamal asma-a kullaha) maka kamus jadi sebutan ikatan dalamnya. Adapun
ikatan luar disebut timang, sebab ilmu wajib dituntut dari timangan,
dari buaian hingga liang lahat.
Penulis : Salim A. Fillah
Share dari facebook
Kain jarik yang sudah di wiru
Perbedaan Sanggul Ngayogyakarta & Sanggul Surakarta
Sanggul adalah rambut tambahan yang diberi dasar berbentuk bulat
seperti tatakan gelas agak kecil, yang dibuat dari kain gaas,
kadang-kadang berbentuk oval atau bulat kecil. Rambut tambahan(palsu)
tersebut bisa dibentuk bermacam-macam sanggul yang dikenal oleh semua
ibu-ibu sebagai sanggul tempel.
Perbedaan sanggul Ngayogyakarta dan sanggul Surakarta adalah model bentuknya. kalau istilahnya sanggul Ngayogyakarta disebut sanggul gelung tekuk sedangkan Sanggul Surakarta disebut sanggul konde. 2 kerajaan pecahan kerajaan mataram ini juga berbeda dalam hal sanggul untuk para wanita.
Untuk pemasangan tusuk konde pun juga berbeda. untuk sanggul surakarta biasanya tusuk konde berada di 1 tengah dan 2 disamping sedangkan sanggul ngayogyakarta tusuk konde berada di 1 tengah
Sanggul Gulung Tekuk Gaya Ngayogyakarta
Referensi :
https://web.facebook.com/DPIdaMU/photos/a.271685497317.145408.271675847317/10152687181247318/?_rdc=1&_rdr
Blangkon Ngayogyakarta Versus Blangkon Surakarta
Pada kesempatan kali ini, akan membahas tentang blangkon Ngayogyakarta versus Blangkon Surakarta. setelah kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua Kerajaan yaitu Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat ada perbedaan antara blangkon yang digunakan.
Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaiana tradisional. Sebutan Blangkon berasal dari kata blangko, istilah yang dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Mondholan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Khusus untuk Yogyakarta, blangkon kejawen dibedakan menjadi gaya utara dan selatan. Sementara dari bentuknya terdiri dari jebehan, cepet, waton, dan kuncungan. Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan motif-motif blangkon, seperti adimuncung, tumpangsari, kuncungan, jeplakan, tempen, solomuda, pletrekan, solobangkalan, prebawan, tutup liwet, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk daerah Surakarta muncul beberapa jenis blangkon lagi, yaitu wironan atau mataraman, iket krepyak dan trepes.
Yogyakarta
dan Surakarta yang sama-sama sebagai bagian dari Kerajaan
Mataram pun memilik bentuk blangkon yang berbeda. Perbedaan mencolok dan
yang paling mudah dikenali adalah pada bagian belakang blangkon.
Blangkon gaya Yogyakarta memiliki mondholan, sedangkan blangkon Solo tanpa mondholan atau terlihat rata.
Mondholan
di Yogyakarta ini muncul, karena ketika itu (masa pemerintahan
Panembahan Senopati, seusai runtuhnya Kerajaan Pajang), para lelaki
mempunyai kebiasaan memelihara rambut panjang, yang kemudian diikat dan
digelung ke belakang. Dari bentuk mondholan ini lahirlah
filosofi di mana orang Jawa pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka
aib orang lain atau diri sendiri. Dalam berkata-kata dan perilaku,
orang Jawa juga penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga
menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi,
akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang Jawa.
“Orang
Jawa itu pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib. Mereka akan
berusaha tersenyum meskipun hatinya menangis. ItuIni bukan sikap
munafik, melainkan keinginan untuk selalu berbuat baik untuk orang
lain.
Sedangkan untuk blangkon Surakarta yang trepes
atau rata pada bagian belakang, karena para lelaki pada masa itu
(Pemerintahan Belanda) sudah mengenal potong rambut dan jas (beskap)
karena pengaruh Belanda. Model trepes ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul karena kebanyakan pria sudah mulai berambut pendek. Blangkon trepes dibuat dengan cara menjahit langsung mondholan pada bagian belakang blangkon.
“Tidak
ada mondholan pada blangkon Surakarta. Yang hanya pertemuan dua pucuk helai
di kanan dan kirinya yang kemudian diikatkan di belakang. Ini simbol
menyatukan dua kalimat syahadat yang harus terus melekat dalam pikiran
orang Jawa.
Secara umum, penempatan
blangkon di kepala secara mengandung anjuran agar segala pemikiran yang
dihasilkan dari kepala selalu membawa nilai-nilai keislaman. Sebebas apa pun pemikiran yang ada, agama Islam harus selalu menjadi pijakan.
Blangkon juga sebagai simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede
(makrokosmos). Blangkon merupakan isyarat jagad gede karena nilai-nilai
transendentalnya. Sedangkan kepala yang ditumpanginya merupakan isyarat
jagad alit. Ini terkait dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fi al-ardi
yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Karena itu, agar manusia mampu
melaksanakan tugasnya dibutuhkan kekuatan Tuhan yang disimbolkan dengan
blangkon.
Pada
zaman dulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton
dengan pakem (aturan) yang baku. Seperti halnya keris dan batik. Semakin
blangkon yang dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin
tinggi nilainya.
Dalam blangkon itu terksimpan nilai-nilai kehidupan sehari-hari seperti keindahan, ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tentang
keindahan, kesabaran, dan ketelitian itu,
sebuah blangkon yang bagus bias memiliki 14 hingga 17 wiru (lipatan)
yang rapi di kanan-kiri. Tanpa kesabaran dan ketelitian yang besar,
sangat mustahil blangkon tersebut bis diselesaikan. Keindahan blangkon
juga bias dilihat dari kain batik selebar 105cm x 105cm sebagai bahan
dasar blangkon.
Blangkon yang bagus,
tentu bahan dasarnya juga harus bagus. Salah satunya kain yang dibatik
tulis, bukan batik cap apalagi printing. Jangan heran jika harga satu
blangkon harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Jika
memiliki nilai sejarah, harganya bias lebih mahal lagi. Seperti
halnya keris dan batik, semakin indah dan bersejarahnya blangkon akan
membuat harganya semakin mahal
Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Blangkon
http://kesolo.com/blangkon-simbol-pertemuan-jagad-cilik-dan-gede/
Sabtu, 03 September 2016
Sumbu Filosofi Kraton Yogyakarta
Jogja bukanlah sebuah kota
semata, tapi ia adalah kota yang penuh makna. Kita bisa mendapati makna
tersembunyi, filosofis, dari berbagai hal di Jogja. Mulai dari baju, pohon yang ditanam di pinggir jalan, bangunan keraton hingga tata ruangnya.
Jogja; adalah kota yang penuh makna.
Makna filosofis yang berlandaskan pada kearifan lokal dan nilai-nilai
budaya. Dari aspek personal hingga kolektif ada maknanya. Misalnya saja
soal pakaian. Bagi masyarakat Jawa umumnya, dan Jogja khususunya,
pakaian bukan semata soal penutup badan. Bukan hanya soal bagus. Bukan
semata soal fashion, tapi pakaian juga punya makna filosofis. Seperti kata pepatah itu, "Aji Ning Rogo Soko Busono lan Aji Ning Ati Soko Lathi.”Nah, yang menarik. Urusan filosofis ini ternyata juga ada dalam tata ruang.
Saya kutip dari berbagai sumber, bahwa ada makna filosofis kraton yang
berdiri di tengah-tengah bentangan dua sungai melambangkan sifat
normatif seorang manusia. Ditarik dari panggung Krapyak di sebelah
selatan hingga sampai Tugu di sebelah utara Keraton punya makna yang
menggambarkan perjalanan hidup manusia.
Krapyak adalah gambaran
tempat asal roh-roh. Di sebelah utaranya terletak kampung Mijen, berasal
dari kata wiji (benih), jalan lurus ke utara, di kanan kini dihiasi
pohon Asem dan Tanjung, menggambarkan kehidupan sang anak yang lurus,
bebas dari rasa sedih dan cemas, wajahnya nengsemaken serta di
sanjung-sanjung selalu.
Plengkung Nirbaya (Gading). Plengkung ini
menggambarkan periode sang anak menginjak dari masa kanak-kanak ke masa
pra puber. Dimana sifatnya masih nengsemaken (pohon Asem) dan juga suka
menghias diri (nata sinom).
Alun-alun selatan. Disini terdapat 2
pohon beringin yang disebut Wok. Disekitar alun-alun ini terdapat 5
buah jalan yang bersatu sama lain menunjukkan panca indera, tanah
berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lain. Apa yang ditangkap
belum tersatur oleh panca indera. Keliling alun-alun ditanami pohon
Kweni dan pakel artinya sang anak sudah wani (berani karena sudah akil
balig)
Siti hinggil, arti arfiah tanah yang ditinggikan. Disini
terdapat sebuah tratag atau tempat istirahat beratap anyaman bambu kanan
kirinya tumbuh pohon Gayam dengan daun-daunnya yang rindang serta
bunga-bunganya harum wangi. Siapa saja yang berteduh dibawah tratag ini
akan merasa aman, tenteram senang dan bahagia. Menggambarkan rasa laki2
dan perempuan yang sedang dirindu asmara.
Halaman kemandungan, menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu.
Regol Gadung Mlati sampai kemagangan merupakan jalan yang sempit
kemudian melebar dan tersang benderang. Suatu gambaran Anatomis
kelahiran sang bayi. Disini bayi kemudian magang (kemagangan) menjadi
calon manusia dalam arti sesungguhnya.
Bangsal Manguntur Tangkil,
sebuah bangsal kecil yang terletak di tratag Sitihinggil. Jadi sebuah
bangsal di dalam bangsal yang mempunyai arti bahwa didalam tubuh kita
(wadag) terdapat roh/ jiwa. Manguntur Tangkil berarti tempat yang tinggi
untuk anangkil, yaitu menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa dengan
mengheningkan cipta atau bersemedi.
Tarub Hagung, merupakan
bangunan yang mempunyai 4 tiang tinggi dari pilar besi yang mempunyai
bentuk empat persegi. Arti bangunan ini ialah: siapa yang gemar samadi,
sujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berada selalu dalam keagungan
Pagelaran, yang bersasal dari kata pagel =Pagol = Pager = batas dan
aran=nama. Dimana habislah perbedaan manusia, baik laki-laki atau
perempuan , terutama dihadapan Tuhan.
Alun-alun utara (lor)
menggambarkan suasanan “nglangut” atau sepi, suasana hati dalam semedi.
Pohon beringin ditengah alun2 menggambarkan suasana seakan2 kita
terpisah dari diri kita sendiri. Mikrokosmos bersatu dalam Makrokosmos.
Simpang empat disebelah utara (km 0 Jogja) menunjukkan godaan dalam samadi. Apaka
kita memilih jalan lurus (Siratal Mustaqim) atau jalan menyimpang ke
kanan-kiri.
Pasar Beringharjo, pusat godaan setelah kita
mengambil jalan lurus berupa godaan akan wanita cantik, makanan yang
lezat serta barang-barang mewah.
Kepatihan, lambang godaan akan kedudukan atau kepangkatan
Sampailah kita pada Tugu/pal putih, simbol dari bersatunya hamba dan Tuhan. Dekat dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.
Sebenarnya masih banyak yang bisa digali. Tata ruang penuh filosofi
tak berhenti pada keraton semata, namun juga pada pola ruang
kampung-kampung prajurit Kraton dan tata ruang dalam kawasan Jeron
Beteng. Ada juga filosofi bangunan rumah joglo, pohon-pohon yang
ditanam pada jalur tertentu, atau bangunan lainnya. Mungkin di lain
kesempatan kita bisa membahasnya lebih lanjut.
Nah, melalui
perda keistimewaan pemerintah harus merevitalisasi kembali tata kota
Jogja. Yang tak hanya harus menghidupkan kembali warisasn sejarah, tapi
juga mesti mengembalikan karakter khasnya sebagai kota budaya yang
nyaman.
Jogja; kota ini penuh makna. Jalan-jalannya, pohon-pohon yang tumbuh, bangunan-bangunannya, dan budayanya.
Jogja adalah kota penuh makna, karena itu ia istimewa. Maka sudah
selayaknya kita menjaga dan merevitalisasi kembali nilai-nilai itu.
Pembangunan yang berbasis pada nilai budaya. Dengan perda istimewa, hal
itu sangat mungkin diwujudkan.
Penulis : Zuhrif Hudaya
Sumber : Share Facebook
Minggu, 17 Januari 2016
Kepangkatan & Gelar Untuk Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Abdi dalem & lambang Kraton
Dalam sistem pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat abdi dalem yang membantu Sultan dalam kegiatan operasional di Kraton. Abdi dalem di kraton terdiri dari 2 yaitu abdi dalem keprajan dan abdi dalem punokawan. Abdi dalem keprajan yaitu abdi dalam yang bertugas di dinas/instansi pemerintahan sedangkan abdi dalem punokawan bertugas hanya di kraton saja.
Para Abdi dalem
Mereka juga mempunyai gelar masing-masing disetiap level abdi dalem seperti di pemerintahan. abdi dalem bisa berasal dari rakyat biasa dan bisa dari golongan ningrat (masih mempunyai hubungan darah dengan kraton(mbah buyut, kakeknya)). dan gelar pun berbeda yang berasal dari ningrat dan rakyat biasa. golongan abdi dalaem terbawah bernama jajar dan yang golongan tertinggi adalah pangeran Sentana. berikut urutan kepangkatan abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat :
Urutan kepangkatan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Nama untuk para abdi dalem diberikan berdasarkan pangkat dan kedudukannya. abdi dalem punakawan diberikan nama sesuai dengan pangkat dan tempat kerja dikraton. sedangkan abdi dalem keprajan diberikan nama sesuai dengan pangkat dan dinas atau instansi kerjanya.
Gelar untuk Abdi Dalem
Kepangkatan abdi dalem keprajan disesuaikan dengan Golongan di pemerintahan
Abdi dalem menggunakan busana peranakan dan slempang motif cindhe
Sumber informasi berita dan foto :
Langganan:
Postingan (Atom)






































