Terpopuler

Minggu, 19 Februari 2012

Sumur Gemulir Masjid Bawah Tanah Saraf Filosofi

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa bangunan yang bernama Sumur Gumuling dulunya adalah sebuah masjid bawah tanah yang digunakan pada jaman kejayaan Kraton Jogja. berada dalam komplek taman sari kraton jogja.

Sumur Gumuling merupakan bangunan masjid yang memiliki banyak filosofi dari segi arsitekturnya. Pintu utama Sumur Gumuling hanya terdapat 1 buah, sehingga bilamana kita memasuki dan keluar dari bangunan tersebut harus melewati 1 pintu. Hal tersebut mengartikan bahwa manusia itu lahir dan mati akhirnya akan kembali ke tangan Tuhan. Sumur yang dimaksud itu sendiri ada di tengah-tengah bangunan. Di atas sumur tersebut terdapat tangga-tangga untuk menuju ke lantai dua. 

Tangga-tangga tersebut ada 5, yang mana menunjukkan 5 macam Rukun Islam. Empat diantaranya menuju ke tengah membentuk suatu pelataran kecil dan satu tangga lainnya menghubungkan ke lantai 2. Maksudnya satu tangga ke atas menunjukan bilamana kita telah “mampu” maka kita bisa menuaikan Rukun Islam yang ke-5 yaitu Menuaikan Ibadah Haji. 

Pada bangunan lantai 2 terdapat 4 jendela yang mengartikan arah mata angin. Nama Sumur Gumuling itu berarti dari Sumur yang mana Makmum(Umat)-nya berada di sekelilingnya. Imam yang memimpin tidak perlu menggunakan pengeras suara karena konstruksi bangunan yang melingkar menyebabkan adanya gema yang menyebabkan suara menjadi lebih keras.

nDalem Di Kawasan kraton Jogja

nDalem mrupakan rumah para bangswan/ golongan darah biru di lingkungan keraton jogja.Berikut nDalem yang Berada di Kraton Yogyakarta :
1. Ndalem Joyokusuman di Jalan Rotowijayan Cetak
     Dalem Joyokusuman dibangun pada tahun 1916, ketika masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Dalem ini didiami oleh Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hamengku Buwono VII, oleh karena itu pada awalnya dalem ini diberi nama Dalem Condrokusuman. Setelah Raden Wedono wafat, dalem ini ditempati oleh salah satu adik Sultan Hamengku Buwono IX, yaitu GBPH Bintoro, seorang ajudan Sultan. Setelah GBPH Bintoro meninggal, dalem ini ditempati oleh GBPH Joyokusumo, adik bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X semenjak tahun 1988 sampai sekarang dan kemudian disebut sebagai Dalem Joyokusuman. Saat ini selain berfungsi sebagai rumah tinggal, nDalem ini digunakan juga sebagai tempat kunjungan wisatawan, yaitu dengan menyediakan jamuan makan siang dan malam dengan menu masakan Sultan. Berbagai kegiatan tradisional juga dapat dilihat di dalem ini seperti proses pembuatan batik tulis, dan latihan gamelan. Selain itu, nDalem ini seringkali juga digunakan sebagai tempat pameran.
2. Ndalem Kaneman di Jalan Kadipaten Cetak
Dalem – sebutan untuk rumah pangeran – ini dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V dan digunakan pertama kali oleh KRT Suronegoro hingga meninggalnya pada tahun 1911. Dalem ini sekarang bernama Dalem Kaneman sesuai nama pemiliknya sekarang yaitu GKR Anom Adi Brata, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KRAy Pintokopurnomo. Selain untuk rumah tinggal, dalem ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain kursus menari yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa. Dalem ini juga sering digunakan untuk menjamu makan malam bagi para wisatawan asing sekaligus sajian pagelaran tari.
     Dalem yang menghadap ke selatan ini memiliki pendapa yang cukup luas di bagian depan dengan seperangkat gamelan lengkap. Sebagian pendapa disekat dan digunakan sebagai ruang persiapan penari. Setelah pendapa, terdapat pringgitan yang seperti lazimnya pada rumah-rumah tradisional Jawa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit (Pringgitan berasal dari kata ringgit = wayang). Berhubungan langsung dengan pringgitan adalah rumah induk atau ruang tengah dan tiga senthong (kamar) – senthong kiwa/kiri, senthong tengah, dan senthong tengen/kanan. Di sebelah timur ruang tengah terdapat ruangan yang sekarang difungsikan sebagai museum keluarga yang memuat berbagai benda-benda keluarga termasuk foto-foto keluarga.
      Di kompleks Dalem kaneman – yaitu di kanan dan kiri rumah induk dan pendapa – tinggal para ahli waris dari para abdi dalem yang magersari (diberi hak untuk tinggal oleh pemilik dalem). Seluruh warga magersari tergabung dalam dua buah RT (Rukun Tetangga).
3. Ndalem Benawan di Jalan Rotowijayan Cetak
     Disebut ndalem Benawan karena dulunya menjadi tempat tinggal GBPH Benowo, putra ke-36 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy. Retnohadiningrum. Ndalem ini terletak di jalan Rotowijayan tepatnya di sebelah barat ndalem Joyokusuman, sebelah utara jalan. Secara administratif, ndalem ini berada di wilayah Kelurahan Kadipaten. Sampai sekarang ndalem ini masih menjadi rumah tinggal ahli waris/keturunan GBPH Benowo, dan di sekitarnya masih ada rumah-rumah abdi ndalem yang magersari.
4. Ndalem Mangkubumen di Jalan Kadipaten Cetak
     Dibangun pada tahun 1865 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI, Dalem Mangkubumen didirikan sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Setelah putra mahkota naik tahta dalem ini ditempati oleh adik kandungnya GPH Mangkubumi sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Dalem Mangkubumen. Setelah GPH Mangkubumi wafat, adiknya yaitu GPH Buminoto menggantikannya menempati Dalem Mangkubumen sampai tahun 1928. Kediaman tersebut juga pernah dijadikan tempat tinggal sementara oleh Jenderal Sudirman pada Agresi Militer II Belanda. Mulai tahun 1983 sampai sekarang Dalem Mangkubumen digunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram dan SMA Mataram.
     Dalem Mangkubumen beratap dalam bentuk joglo (pendapa) dan limasan (rumah induk/dalem). Dalem ini berbentuk bujur sangkar dengan susunan ruangan yang terdiri dari ruang pertemuan/pendapa, ruang pentas wayang, dan ruang keluarga. Pendapa menggunakan blandar bersusun yang disebut blandar tumpang sari, semakin keatas semakin melebar, dan memiliki empat tiang pokok di tengah (saka guru). Konstruksi saka guru ini disebut sunduk kili, berfungsi sebagai pengikat bangunan supaya tidak berubah bentuk posisinya.
5. Ndalem Pakuningratan di Jalan Polowijan Cetak
     Dalem Pakuningratan dibangun pada tahun 1877-1921 secara bertahap pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk menjadi kediaman Pangeran Purboyo atau putra mahkota yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono VIII. Selama ini bangunan Dalem Pakuningratan telah mengalami 3 kali pemugaran. Pertama, tahun 1926 atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII bangunan pendapa dihubungkan dengan pringgitan. Kedua, pada tahun 1928 dibangun bangunan teras belakang yang disebut cekokan. Sedangkan pada tahun 1939 semua lantai plesteran diganti dengan lantai ubin ukuran 20 x 20 cm bermotif warna kuning dan hijau serta cat pintu yang semula berwarna abu-abu diganti dengan warna hijau.
      Saat ini bagian pendapa Dalem Pakuningratan digunakan sebagai ruang kuliah ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film), institusi pendidikan yang melahirkan sutradara besar Teguh Karya dan Slamet Raharjo.
6. Ndalem Suryaputran di Jalan Suryaputran Cetak
     Pada masa Hamengku Buwono VI, Dalem Suryaputran merupakan tempat tinggal GPH Suryaputra. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI dari permaisuri. Kediaman tersebut sering kali digunakan sebagai tempat latihan kesenian Jawa. Setelah GPH Suryaputra wafat, selanjutnya oleh Sultan Hamengku Buwono VII dalem ini diberikan kepada putranya GPH Hadikusuma sehingga kemudian bangunan tersebut lebih dikenal dengan nama Dalem Ngadikusuman. Pada masa pendudukan Jepang, Dalem Ngadikusuman seringkali digunakan sebagai tempat berbagai macam kegiatan pemuda, misalnya olahraga dan kesenian. Kemudian pada tanggal 28 Juli 1952, Dalem Suryaputran dibeli oleh Dinas Pengawas Keselamatan Negara, yang selanjutnya dipakai sebagai tempat asrama polisi sampai sekarang.
7. Ndalem Wironegaran di Jalan Suryomentaraman Cetak
     Dalem ini dibangun sekitar abad ke-18. Awalnya dalem ini ditinggali oleh GBPH Suryomentaraman (putra ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII), kemudian ditempati oleh BRAy. Condrodiningrat (Putri ke-15 dari Sultan Hamengku Buwono VIII), sehingga pernah dikenal dengan nama Dalem Condrodiningratan. Sekarang Dalem ini ditempati oleh GKR Pembayun (Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X) dan suaminya, KPH Wironegara, sehingga disebut Dalem Wironegaran.
8. Ndalem Yudonegaran di Jalan Ibu Ruswo Cetak
     Ndalem yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) ini pada awalnya ditempati oleh GKR Dewi, Putri ke-38 HB VII dari permaisurinya GKR Kencono. Sekarang ini ndalem tersebut ditempati oleh GBPH Yudoningrat, Putri ke-13 HB IX dari KRAy Hastungkoro. Ndalem ini pernah dimanfaatkan sebagai Fakultas Sastra UGM sampai tahun 1960-an, sebelum akhirnya pindah ke kawasan Bulak Sumur. Di kompleks ndalem ini terdapat 35 rumah ‘ngindung’ dan beberapa unit bangunan yang dalam perkembangannya digunakan untuk Sekolah Menengah Farmasi dan Sekolah Apoteker (juga sejak tahun 1960-an). Kemudian, menginjak tahun 1987, Sekretariat PORDASI atau Perkumpulan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia berkedudukan di sini. Selain itu, ndalem ini seringkali dipergunakan untuk tempat resepsi pernikahan ataupun acara-acara khusus lainnya. Dan pada bagian pendapanya terdapat delapan kereta kuda yang siap disewa.
9. Ndalem Condrokiranan di Jalan Wijilan Cetak
     Sebelum bernama ndalem Condrokiranan, ndalem ini sempat dinamai ndalem Wijilan. Semula ndalem ini ditinggali oleh Adipati Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mataram yang kemudian diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono III. Menggantikan beliau, ndalem menjadi milik Gusti Pangeran Wijil yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama KRT Wijil, sehingga ndalem ini dikenal sebagai Ndalem Wijilan. Selanjutnya ndalem diberikan kepada BPH Joyowinoto sebelum kemudian dijual kepada pemilik terakhir, GKR Condrokirono, istri KPH Danurejo VIII, Patih Yogyakarta terakhir. Karenanya hingga kini, ndalem ini dikenal dengan sebutan Ndalem Condrokiranan. Sekarang ini, Ndalem Condrokiranan atas seijin pemiliknya digunakan sebagai Museum Sonobudoyo unit II, untuk menampung koleksi Museum Sonobudoyo I yang kian banyak. Koleksi museum yang dapat ditemui di ndalem ini diantaranya tandu Pakualaman dan gamelan, juga hasil kerajinan, serta hasil pertanian dan perkebunan dari tiap kabupaten di DIY.
     Sebetulnya, seperti juga ndalem-ndalem lainnya, ndalem Condrokiranan merupakan rumah tradisional Jawa lengkap dengan pendapa, pringgitan dan gandok di kanan kirinya. Pada perkembangannya, ndalem ini mengalami beberapa perubahan mengikuti gaya Eropa lama dan baru. Meskipun begitu, bangunan aslinya masih dapat dikenali.





Plengkung/ pintu gerbang di kawasan Keraton jogja

Taukah anda plengkung/pintu gerbang milik keraton jogja dulunya ada 5 buah, tetapi sekarang yang masih utuh dan berdiri ada cuma 2 yaitu plengkung wijilan/tarunasura dan plengkung gading/nirboyo

Menurut sejarah, Kraton Yogyakarta mempunyai pintu gerbang (plengkung) yang berjumlah lima buah, yaitu Plengkung Tarunasura yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara. Plengkung Tarunasura ini oleh masyarakat sekarang dikenal dengan Plengkung Wijilan (pasti sudah tahu tempatnya).Kemudian Plengkung yang terletak di sebelah timur disebut Plengkung Madyasura.  letaknya dekat purawisata tembus jl Brigend katamso. Plengkung Madyasura ini ditutup pada tanggal 23 Juni 1812 untuk menghindari serbuan pasukan musuh. Karena ditutup, plengkung ini kemudian disebut dengan Plengkung Buntet (tertutup).

Yang ketiga adalah Plengkung Nirbaya, letaknya di sebelah selatan Alun-alun Selatan. Plengkung Nirbaya ini adalah plengkung yang sekarang kita kenal dengan Plengkung Gadhing. Klo dari alun-alun selatan kelihatan plengkung itu. Kemudian plengkung yang terletak di sebelah barat disebut Plengkung Jagabaya. Oleh masyarakat sekarang, plengkung ini kini disebut dengan Plengkung Tamansari. (letaknya arah ke jalan  patang puluhan jogja). Hal tersebut disebabkan karena letaknya berdekatan dengan bekas tempat peristirahatan Tamansari.

Yang terakhir adalah Plengkung Jagasura yang terletak di sebelah barat Alun-alun Utara. letaknya arah ke pasar ngasem dari kauman . Dari kelima plengkung tersebut yang sampai sekarang masih bisa kita lihat aslinya hanyalah Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan dan Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing.

Sementara itu, ketiga plengkung yang lain kini sudah tidak dapat kita lihat lagi, karena memang kini sudah tidak ada lagi. Plengkung Madyasura dibongkar pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke VIII, kemudian diganti gapura gerbang biasa. Sementara itu Plengkung Jagabaya juga telah diganti dengan gapura biasa. Deikian juga yang terjadi pada Plengkung Jagasura yang kini hanya tinggal bentuk gerbang gapura saja.

Plengkung Wijilan

Plengkung Nirbaya (Plengkung Gadhing) dan Plengkung Tarunasura (Plengkung  wijilan) keduanya terletak di Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, keadaan plengkung-plengkung tersebut kini nampak masih kuat dan kokoh, meskipun sekarang sedikit retak-retak akibat guncangan gempa bumi yang sangat dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah tahun 2006 dengan kekuatan 5,8 Skala Richter pada hari Sabtu, kira-kira pukul enam pagi.

 Plengkung Gading
 

Pasanggrahan Kraton Jogja

Taukan anda dijogja itu punya petilasan atau pesanggrahan milik kraton jogjakarta. 
1. Pesanggrahan Ambarketawang
Dulunya sebagai istana saat pemerintahan Sri Sultan HB I, sebelum kraton Ngayogyakarta yg sekarang ini dibangun

2. Tamasari
Dibangun saat Sri Sultan HB I berkuasa dan diteruskan pembangunannya saat pemerintahan sri Sultan HB II. merupakan taman keluarga kraton ada taman, kolam dan masjid yang berada di kawasan keraton. dulu terdapat kanal /sungai yg tembus dari keraton hingga taman sari

3. Pesanggrahan Warung Boto
Pesanggarahan Warung Boto  terletak dijalan veteran yogyakarta, dulunya tempat peristirahan saat masa pemerintahan Sri Sultan HB II

4. Pesanggrahan Ambarukmo
Merupakan pesanggarahan saat pemerintahan Sri Sultan HB VII, ketika tidak menjabat sebagai sultan/turun tahta. tempat ini sebagai tempat meninggalnya Sri sultan HB VII. berada di sampil hotel royal ambarukmo dan ambarukmo plaza. Sri Sultan HB VII pernah berucap , Kalau raja kraton Yogyakarta setelah Sri Sultan HB VII tidak lagi meninggalnya di dalam istana tapi diluar istana kraton jogja. sebagai contoh Sri Sultan HB VIII meninggal di kereta api, setelah menjemput Dorojatun (nama kecil Sri Sultan HB IX) dari batavia/jakarta. Sri Sultan HB IX meninggal di washinton Amerika Serikat.

5. Pesanggrahan di Kaliurang
Merupakan Pesanggarahan milik kraton Jogja yang berada di Kaliurang. sebagai tempat peristirahan keluarga sultan dan pernah menjadi tempat penandatangan dengan belanda


Semoga bermanfaat

prasasti di tugu jogja


Pernah lewat dan main ke tugu jogja dan menemukan huruf jawa berupa prasasti tapi tidak tau artinya?  Menempel di sisi barat, utara, timur dan selatan tugu jogja. Berikut arti empat prasasti tersebut :
1. Sisi Barat
"Yasan Dalem Hingkang Sinuwun Kangjen Sultan Hamengku Buwana Hingkang Kaping VII"
2. Sisi Selatan 
'Wiwara harja manggala praja (1889) kaping 7 sapar Alip 1819"
3. Timur
"Hingkang Manggayubagya Karsa Dalem Kangjeng Tuan Residen Y Mullemester"
4. Utara
" Pakaryanipun Sinambadan Patih Dalem Kangjeng Raden Adipati Danurejan Hingkang Kaping V Kaundangen Dening Tuan Ypf Van Brussel Ophister Waterstataat

Sekedar informasi tugu sekarang ini dulunya tugu golong gilig yang dibangun tahun 1756 pada masa Sri Sultan HB I dengan tinggi 25 meter dan runtuh pada tahun 1867 saat gempa besar yang melanda yogyakarta saat masa Sri sultan HB VI. dan oleh masa pemerintahan Sri sultan HB VI dibangun kembali pada tahun 1889 dengan tinggi lebih pendek 15 meter dan berbentuk persegi.  diresmikan pada pemerintahan masa Sri sultan HB VII. tugu jogja sering disebut tugu pal putih (karena warnanya putih) atau De witte pall te Djocja.