Terpopuler

Minggu, 19 Februari 2012

nDalem Di Kawasan kraton Jogja

nDalem mrupakan rumah para bangswan/ golongan darah biru di lingkungan keraton jogja.Berikut nDalem yang Berada di Kraton Yogyakarta :
1. Ndalem Joyokusuman di Jalan Rotowijayan Cetak
     Dalem Joyokusuman dibangun pada tahun 1916, ketika masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Dalem ini didiami oleh Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hamengku Buwono VII, oleh karena itu pada awalnya dalem ini diberi nama Dalem Condrokusuman. Setelah Raden Wedono wafat, dalem ini ditempati oleh salah satu adik Sultan Hamengku Buwono IX, yaitu GBPH Bintoro, seorang ajudan Sultan. Setelah GBPH Bintoro meninggal, dalem ini ditempati oleh GBPH Joyokusumo, adik bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X semenjak tahun 1988 sampai sekarang dan kemudian disebut sebagai Dalem Joyokusuman. Saat ini selain berfungsi sebagai rumah tinggal, nDalem ini digunakan juga sebagai tempat kunjungan wisatawan, yaitu dengan menyediakan jamuan makan siang dan malam dengan menu masakan Sultan. Berbagai kegiatan tradisional juga dapat dilihat di dalem ini seperti proses pembuatan batik tulis, dan latihan gamelan. Selain itu, nDalem ini seringkali juga digunakan sebagai tempat pameran.
2. Ndalem Kaneman di Jalan Kadipaten Cetak
Dalem – sebutan untuk rumah pangeran – ini dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V dan digunakan pertama kali oleh KRT Suronegoro hingga meninggalnya pada tahun 1911. Dalem ini sekarang bernama Dalem Kaneman sesuai nama pemiliknya sekarang yaitu GKR Anom Adi Brata, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KRAy Pintokopurnomo. Selain untuk rumah tinggal, dalem ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain kursus menari yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa. Dalem ini juga sering digunakan untuk menjamu makan malam bagi para wisatawan asing sekaligus sajian pagelaran tari.
     Dalem yang menghadap ke selatan ini memiliki pendapa yang cukup luas di bagian depan dengan seperangkat gamelan lengkap. Sebagian pendapa disekat dan digunakan sebagai ruang persiapan penari. Setelah pendapa, terdapat pringgitan yang seperti lazimnya pada rumah-rumah tradisional Jawa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit (Pringgitan berasal dari kata ringgit = wayang). Berhubungan langsung dengan pringgitan adalah rumah induk atau ruang tengah dan tiga senthong (kamar) – senthong kiwa/kiri, senthong tengah, dan senthong tengen/kanan. Di sebelah timur ruang tengah terdapat ruangan yang sekarang difungsikan sebagai museum keluarga yang memuat berbagai benda-benda keluarga termasuk foto-foto keluarga.
      Di kompleks Dalem kaneman – yaitu di kanan dan kiri rumah induk dan pendapa – tinggal para ahli waris dari para abdi dalem yang magersari (diberi hak untuk tinggal oleh pemilik dalem). Seluruh warga magersari tergabung dalam dua buah RT (Rukun Tetangga).
3. Ndalem Benawan di Jalan Rotowijayan Cetak
     Disebut ndalem Benawan karena dulunya menjadi tempat tinggal GBPH Benowo, putra ke-36 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy. Retnohadiningrum. Ndalem ini terletak di jalan Rotowijayan tepatnya di sebelah barat ndalem Joyokusuman, sebelah utara jalan. Secara administratif, ndalem ini berada di wilayah Kelurahan Kadipaten. Sampai sekarang ndalem ini masih menjadi rumah tinggal ahli waris/keturunan GBPH Benowo, dan di sekitarnya masih ada rumah-rumah abdi ndalem yang magersari.
4. Ndalem Mangkubumen di Jalan Kadipaten Cetak
     Dibangun pada tahun 1865 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI, Dalem Mangkubumen didirikan sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Setelah putra mahkota naik tahta dalem ini ditempati oleh adik kandungnya GPH Mangkubumi sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Dalem Mangkubumen. Setelah GPH Mangkubumi wafat, adiknya yaitu GPH Buminoto menggantikannya menempati Dalem Mangkubumen sampai tahun 1928. Kediaman tersebut juga pernah dijadikan tempat tinggal sementara oleh Jenderal Sudirman pada Agresi Militer II Belanda. Mulai tahun 1983 sampai sekarang Dalem Mangkubumen digunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram dan SMA Mataram.
     Dalem Mangkubumen beratap dalam bentuk joglo (pendapa) dan limasan (rumah induk/dalem). Dalem ini berbentuk bujur sangkar dengan susunan ruangan yang terdiri dari ruang pertemuan/pendapa, ruang pentas wayang, dan ruang keluarga. Pendapa menggunakan blandar bersusun yang disebut blandar tumpang sari, semakin keatas semakin melebar, dan memiliki empat tiang pokok di tengah (saka guru). Konstruksi saka guru ini disebut sunduk kili, berfungsi sebagai pengikat bangunan supaya tidak berubah bentuk posisinya.
5. Ndalem Pakuningratan di Jalan Polowijan Cetak
     Dalem Pakuningratan dibangun pada tahun 1877-1921 secara bertahap pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk menjadi kediaman Pangeran Purboyo atau putra mahkota yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono VIII. Selama ini bangunan Dalem Pakuningratan telah mengalami 3 kali pemugaran. Pertama, tahun 1926 atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII bangunan pendapa dihubungkan dengan pringgitan. Kedua, pada tahun 1928 dibangun bangunan teras belakang yang disebut cekokan. Sedangkan pada tahun 1939 semua lantai plesteran diganti dengan lantai ubin ukuran 20 x 20 cm bermotif warna kuning dan hijau serta cat pintu yang semula berwarna abu-abu diganti dengan warna hijau.
      Saat ini bagian pendapa Dalem Pakuningratan digunakan sebagai ruang kuliah ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film), institusi pendidikan yang melahirkan sutradara besar Teguh Karya dan Slamet Raharjo.
6. Ndalem Suryaputran di Jalan Suryaputran Cetak
     Pada masa Hamengku Buwono VI, Dalem Suryaputran merupakan tempat tinggal GPH Suryaputra. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI dari permaisuri. Kediaman tersebut sering kali digunakan sebagai tempat latihan kesenian Jawa. Setelah GPH Suryaputra wafat, selanjutnya oleh Sultan Hamengku Buwono VII dalem ini diberikan kepada putranya GPH Hadikusuma sehingga kemudian bangunan tersebut lebih dikenal dengan nama Dalem Ngadikusuman. Pada masa pendudukan Jepang, Dalem Ngadikusuman seringkali digunakan sebagai tempat berbagai macam kegiatan pemuda, misalnya olahraga dan kesenian. Kemudian pada tanggal 28 Juli 1952, Dalem Suryaputran dibeli oleh Dinas Pengawas Keselamatan Negara, yang selanjutnya dipakai sebagai tempat asrama polisi sampai sekarang.
7. Ndalem Wironegaran di Jalan Suryomentaraman Cetak
     Dalem ini dibangun sekitar abad ke-18. Awalnya dalem ini ditinggali oleh GBPH Suryomentaraman (putra ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII), kemudian ditempati oleh BRAy. Condrodiningrat (Putri ke-15 dari Sultan Hamengku Buwono VIII), sehingga pernah dikenal dengan nama Dalem Condrodiningratan. Sekarang Dalem ini ditempati oleh GKR Pembayun (Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X) dan suaminya, KPH Wironegara, sehingga disebut Dalem Wironegaran.
8. Ndalem Yudonegaran di Jalan Ibu Ruswo Cetak
     Ndalem yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) ini pada awalnya ditempati oleh GKR Dewi, Putri ke-38 HB VII dari permaisurinya GKR Kencono. Sekarang ini ndalem tersebut ditempati oleh GBPH Yudoningrat, Putri ke-13 HB IX dari KRAy Hastungkoro. Ndalem ini pernah dimanfaatkan sebagai Fakultas Sastra UGM sampai tahun 1960-an, sebelum akhirnya pindah ke kawasan Bulak Sumur. Di kompleks ndalem ini terdapat 35 rumah ‘ngindung’ dan beberapa unit bangunan yang dalam perkembangannya digunakan untuk Sekolah Menengah Farmasi dan Sekolah Apoteker (juga sejak tahun 1960-an). Kemudian, menginjak tahun 1987, Sekretariat PORDASI atau Perkumpulan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia berkedudukan di sini. Selain itu, ndalem ini seringkali dipergunakan untuk tempat resepsi pernikahan ataupun acara-acara khusus lainnya. Dan pada bagian pendapanya terdapat delapan kereta kuda yang siap disewa.
9. Ndalem Condrokiranan di Jalan Wijilan Cetak
     Sebelum bernama ndalem Condrokiranan, ndalem ini sempat dinamai ndalem Wijilan. Semula ndalem ini ditinggali oleh Adipati Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mataram yang kemudian diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono III. Menggantikan beliau, ndalem menjadi milik Gusti Pangeran Wijil yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama KRT Wijil, sehingga ndalem ini dikenal sebagai Ndalem Wijilan. Selanjutnya ndalem diberikan kepada BPH Joyowinoto sebelum kemudian dijual kepada pemilik terakhir, GKR Condrokirono, istri KPH Danurejo VIII, Patih Yogyakarta terakhir. Karenanya hingga kini, ndalem ini dikenal dengan sebutan Ndalem Condrokiranan. Sekarang ini, Ndalem Condrokiranan atas seijin pemiliknya digunakan sebagai Museum Sonobudoyo unit II, untuk menampung koleksi Museum Sonobudoyo I yang kian banyak. Koleksi museum yang dapat ditemui di ndalem ini diantaranya tandu Pakualaman dan gamelan, juga hasil kerajinan, serta hasil pertanian dan perkebunan dari tiap kabupaten di DIY.
     Sebetulnya, seperti juga ndalem-ndalem lainnya, ndalem Condrokiranan merupakan rumah tradisional Jawa lengkap dengan pendapa, pringgitan dan gandok di kanan kirinya. Pada perkembangannya, ndalem ini mengalami beberapa perubahan mengikuti gaya Eropa lama dan baru. Meskipun begitu, bangunan aslinya masih dapat dikenali.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar