Terpopuler

Minggu, 17 Januari 2016

Kepangkatan & Gelar Untuk Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Abdi dalem & lambang Kraton 

Dalam sistem pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat abdi dalem yang membantu Sultan dalam kegiatan operasional di Kraton. Abdi dalem di kraton terdiri dari 2 yaitu abdi dalem keprajan dan abdi dalem punokawan. Abdi dalem keprajan yaitu abdi dalam yang bertugas di dinas/instansi pemerintahan sedangkan abdi dalem punokawan bertugas hanya di kraton saja. 

 
Para Abdi dalem

Mereka juga mempunyai gelar masing-masing disetiap level abdi dalem seperti di pemerintahan. abdi dalem bisa berasal dari rakyat biasa dan bisa dari golongan ningrat (masih mempunyai hubungan darah dengan kraton(mbah buyut, kakeknya)). dan gelar pun berbeda yang berasal dari ningrat dan rakyat biasa. golongan abdi dalaem terbawah bernama jajar dan yang golongan tertinggi adalah pangeran Sentana. berikut urutan kepangkatan  abdi dalem di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat :
Urutan kepangkatan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Nama untuk para abdi dalem diberikan berdasarkan pangkat dan kedudukannya. abdi dalem punakawan diberikan nama sesuai dengan pangkat dan tempat kerja dikraton. sedangkan abdi dalem keprajan diberikan nama sesuai dengan pangkat dan dinas atau instansi kerjanya.
Gelar untuk Abdi Dalem

Kepangkatan abdi dalem keprajan disesuaikan dengan Golongan di pemerintahan


Abdi dalem menggunakan busana peranakan dan slempang motif cindhe


Sumber informasi berita dan foto  :




Selasa, 12 Januari 2016

Sistem Pemerintahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat


Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Sejak disahkannya UU No 13 Tahun 2012, Yogyakarta resmi mempunyai payung hukum tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Indonesia ada 3 provinsi dengan status istimewa (Nanggroe Aceh Darusalam, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua & Papua Barat ) &  dan 1 provinsi berstatus khusus (DKI Jakarta). Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Yang dimaksud satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus adalah daerah yang diberikan otonomi khusus.

Khusus untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak lepas dari peran dan jasa Sri Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan bergabung dengan Negara Republik Indonesia (NKRI), padahal kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman berbentuk kerajaan (monarki). Beliau berdua juga ikut serta dalam perang melawan penjajah serta berkontibusi besar dalam sejarah bangsa Indonesia.

Isi UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta salah satunya Sultan HB dan Paku Alam yang bertahta menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Gubernur merupakan kepala daerah yang mengkoordinasi kepala daerah tingkat II. Wilayah DIY terdiri dari 4 Kabupaten (Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo) dan 1 Kotamadya (Yogyakarta). Sehingga di DIY tidak ada pemilihan kepala Daerah (Pilkada) Tingkat I (memilih Gubernur & wakil gubernur). Pilkada hanya di Tingkat II (memilih bupati dan walikota berserta wakilnya). 


Peta wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta


Karena Yogyakarta bersifat Istimewa. Penulis tertarik menulis dan mengulas tentang sistem pemerintahan di kraton Ngayogyakarta hadiningrat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kalayak masyarakat. Karena secara resmi kraton Yogyakarta belum mempunyai website resmi hanya sepengetahuan penulis sudah mempunyai beberapa sosial media seperti twitter, facebook & intragram untuk memperkenalkan kraton yogyakarta & untuk berinteraksi dengan masyarakat yang dikelola oleh Tepas Tanda Yekti.

Kalau di kraton, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) bertindak sebagai Raja, sedangkan di DIY, Sri Sultan HB bertindak sebagai Gubernur/Kepala daerah dan mempunyai sistem pemerintahan yang berbeda. Gubernur bertanggung jawab kepada presiden & Menteri Dalam Negeri. Gubernur dibantu oleh Wakil Gubernur dan Sekretaris Daerah (Sekda). 

Dahulu kala dikraton, jabatan seperti Sekda dijabat oleh Patih Dalem. Patih Dalem terakhir adalah Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Danuredjo VIII. Beliau termasuk yang paling lama menjadi patih di Kraton Yogyakarta hampir 3 generasi kesultanan yaitu Hamengkubuwono VII, Hamengkubuwono VIII dan Hamengkubuwono IX. Akibat ketidakcocokannya dengan Sri Sultan HB IX beliau mengundurkan diri sebagai patih pada tahun 1945. Dan beliau adalah patih terakhir Kesultanan Hamengkubuwono, karena selanjutnya Kesultanan tidak mengaktifkan kembali fungsi kepatihan. waktu itu, Patih dalem bertempat tinggal di Kepatihan. Saat ini kepatihan menjadi kantor gubernur dan wakil gubernur di jalan Malioboro Yogyakarta.

 Kepatihan Danurejan, Kantor Gubernur DIY 

Dalam sistem pemerintahan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mempunyai struktur organisasi. ini berdasarkan dari dawuh dalem  angka 01/DD/HB.X/EHE-1932 mengenai sistem pemerintahan di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang digambarkan dalam skema berikut ini :

  
Struktur Pemerintahan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

1. Ingkang Sinuhun : Sri Sultan HB yang bertahta/Jumeneng, saat ini dijabat oleh Sri Sultan HB X
2. Sri Palimbangan : siapa saja yang diminta oleh sultan untuk memberikan saran dan pertimbangan mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan keadaan dalam keraton. Biasanya yang memberikan pertimbangan adalah keluarga Sulta yang bertahta, saudara-saudara sultan, abdi dalem atau para pemimpin lembaga.
3. Pandhite Aji : siapapun yang diminta oleh sultan untuk memberikan usul, saran dan pertimbangan berdasarkan kajian yang berkaitan dengan masalah agama, adat, seni, budaya, ekonomi, politik, hukum dan sosial. biasanya para ahli berasal dari luar kraton.
4. Kawedanan Hageng Punokawan : Sebuah badan yang menjalankan sebagian pemerintahan kraton yang bersifat teknis.
5. Kawedanan Hageng : Sebuah badan yang menjalankan sebagian pemerintahan keraton yang bersifat administrasi fungsional.
6. Kawedanan :  Pelaksana teknis operasional.
7. Tepas Pelaksana teknis administrasi.
8. Golongan : Kumpulkan para abdi dalem yang mempunyai pekerjaan atau tanggung jawab yang sama. Penggolongan ini dimaksudkan untuk menjalankan pekerjaan yang teknis operasional sifatnya.


Kawedanan Hageng Punokawan dan Kawedanan Hageng sebetulnya merupakan gabungan dari beberapa kawedanan dan tepas. Kawedanan Hageng Punokawan, kalau di kabinet pemerintahan Republik Indonesia semacam Menteri Koordinator (MenKo) dan Kawedanan Hageng semacam Sekretaris Negara (SetNeg). Masing-masing Kawedanan Hageng Punokawan (3 buah) dan Kawedanan Hageng (1 buah) dikoordinasi oleh adik-adik sultan & Putri Sultan. Berikut penjelasannya :

A. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Purwa Budaya dikoordinasi atau diketuai oleh GBPH Yudhaningrat (Adik Sultan HB X) dan di bantu oleh GKR Mangkubumi (Putri Ke 1 Sultan HB X).
Kawedanan Hageng Punokawan Purwo Budaya terdiri dari beberapa departemen antara lain :

1. KHP Krida Mardawa (kesenian) -> Mengurusi kesenian seperti Niyaga, Lebdaswara, pedhalangan
2. Kawedanan Pengulon (keagamaan) -> Mengurusi abdi dalem yang berkaitan dengan keagamaan dan kawedanan ini mengatur masjid gedhe, masjid panepen, masjid pathok negara
3. Kawedanan Puralaya (pemakaman) -> Mengurusi makam-makan raja-raja di Kota Gedhe & Imogiri
4. Kawedanan Keputren (keputrian) -> Mengurusi putri-putri kraton yang ada di kaputren


B. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya dikoordinasi atau diketuai oleh GBPH Prabukusumo ( Adik sultan HB X) dan dibantu oleh GKR Bendara (putri ke 5 Sultan HB X).
Kawedanan Hageng Punokawan Nitra Budaya terdiri dari beberapa departemen antara lain :

1. KHP Widya Budaya (upacara keraton) -> Mengurusi budaya dan upacara-upacara adat seperti labuhan, grebegan, dll
2. KHP Purayakara (aktiva terutama lampu dan barang keraton) -> Mengurusi perlengkapan kraton termasuk alat-alatrumah tangga
3.Tepas Banjar Wilapa (perpustakaan) -> Mengurusi perpustakaan
4.Tepas Museum (barang milk keraton) -> Mengurusi museum-museum yang ada di kraton seperti museum Kereta, museum HB IX, taman sari, dll
5.Tepas Pariwisata -> Mengurusi pariwisata seperti tour guide, dll


C. Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Parasraya Budaya dikoordinasi atau diketuai oleh KGPH Hadiwinoto (Adik Sri Sultan HB X) dan dibantu oleh GKR Maduretno (putri ke 3 sultan HB X). 
Kawedanan Hageng Punokawan Parasraya Budaya terdiri dari beberapa departemen antara lain :

1. KHP Wahana Sarta Kriya (kendaraan, kebersihan dan pemeliharaan) -> Mengurusi kendaraan, kereta, pakarya renovasi bangunan di kraton.
2. KHP Puraraksa (keamanan) -> Mengurusi keamanan kraton yang bersifat umum.
3. Tepas Panitikisma (kewarisan) -> Mengurusi tanah-tanah kraton (sultan Ground) & penerbitan surat kekancingan
4. Tepas Keprajuritan -> Mengurusi prajurit-prajurit kraton
5. Tepas Halpitapura (pembelian keperluan keraton) -> Mengurusi urusan rumah tangga kraton
6. Tepas Security -> Mengurusi keamanan yang bersifat khusus. dulu dibentuk saar Sri Sultan HB IX menjabat wakil presiden, dan saat ini masih ada.


D. Kawedanan Hageng Panitra Putra dikoordinasi atau diketuai oleh GKR Condrokirono  (putri ke 2 Sri Sultan HB X), terdiri dari :  

1. Parentah Hageng (pusat administrasi atau kepegawaian) -> Mengurusi administrasi kepegawaian para abdi dalem.
2. Kawedanan Hageng Sri Wandawa (kesejahteraan sosial) -> Mengurusi administrasi keluarga sultan
3. Tepas Dwara putra (penghubung dengan pihak luar) -> Mengurusi Kehumasan kraton termasuk abdi dalem keprajan
4. Tepas Darah Dalem (silsilah Kraton) -> Mengurusi urusan belisik/tanda keabdi daleman/urutan hubungan darah dengan para sultan
5. Tepas Rantam Harta (pengganggaran kraton) -> Mengurusi anggaran harta/rencana anggaran kraton
6. Tepas Danartapura (pengeluaran uang) -> Mengurusi dana/keuangan kraton
7. Tepas Witardana (penyimpanan uang) -> Mengurusi kesejahteraan abdi dalem/asuransi
8. Tepas Tandha Yekti (IT & pusat data Kraton) -> Terhitung mulai 10 Sawal Wawu 1945, atau 28 Agustus 2012, Kraton Yogyakarta memiliki Tepas Tandha Yekti atau pusat data. Keberadaan tepas ini merupakan upaya dari Kraton Yogyakarta untuk semakin membuka diri dan memanfaatkan teknologi informasi dalam pelestarian kraton sebagai institusi budaya. Tepas Tandha Yekti merupakan pusat data yang memanfaatkan teknologi informasi serta multimedia untuk mendokumentasikan data dan kegiatan di Kraton Yogyakarta," kata Pengageng Tepas Tandha Yekti KRT Yuda Hadiningrat. Penggageng Tepas tandha Yekti Lainnya adalah GKR Hayu (Putri ke 4 Sultan HB X)

Lambang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Semoga bertambah pengetahuan tentang sistem pemerintahan di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat & semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Terima kasih.


Sumber informasi : 

Minggu, 10 Januari 2016

"Kirab Ageng" Jumenengan Dalem Paku Alam X

Kirab Ageng Jumenengan Dalem KGPAA Paku Alam X menjadi peristiwa budaya bersejarah dan langka yang disambut antusias oleh  masyarakat Yogyakarta. Ribuan warga berjubel di sepanjang rute kirab untuk turut Mangayubagyo sang Adipati baru sekaligus Wakil Gubernur DIY

Kereta Kyai Manik Kumolo
 
Kirab yang menepuh jarak sekitar 3,5 km ini melewati rute Pura Pakualaman - Jalan Sultan Agung - Jalan Gajahmada - Jalan Bausasran - Jalam Gayam- Jalan Cendana - Jalan Kusumanegara - Jalan Sultan Agung - kembali ke Puro Pakualaman.

 Rute Kirab Ageng

Sebelum kirab, kereta Kyai Manik Kumolo dan kereta lainnya siap didepan Tratag Bangsal Sewatama. Dua gamelan, Kyai Pragrawitasari dan Kyai Tlagamuncar membawakan Gending-Gending Soran. Sedangkan di Regol Danawara terdapat gamelan Kyai Kombang Tawang dan Carabalen yang membawakan Gending Monggang, seperti membawa ke jaman masa lalu.


 Persiapan keberangkatan kirab Ageng

Ketika Paku Alam X keluar dari Ndalem Ageng menuju Bangsal Sewatama diiringi Gending Ketawang Puspawarna. Kemudian duduk di kursi yang disediakan disusul pembacaan doa keberangkatan kirab ageng oleh Abdi dalem Suranggama. Kirab ageng mulai jam 14.30 WIB.

Abdi Dalem Suranggama

Dalam kirab Ageng kemarin, Rayi Dalem Paku Alam X Gusti Pangeran Haryo (GPH) Harimurti bertindak sebagai Manggala Yudha (Panglima Perang). Iringan-iringan kirab diawali  Marching Band Gita Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta disusul paskibra yogyakarta dan barisan pembawa bendera pura pakualaman. Selanjutnya barisan tujuh ekor gajah koleksi gembira loka & kraton Yogyakarta, bregada lombok abang, iringan lima kereta dan pasukan kavaleri. dibelakangnya menyusul  bregada plangkir, dan marching band UPN "Verteran" yogyakarta sepagai penutup barisan kirab.

 Barisan Gajah

 Maching Band AAU Yogyakarta

Paskibraka Kota Yogyakarta

Pasukan Lombok Abang

KGPAA Paku Alam  X berada dalam kereta pusaka Kyai Manik Kumolo yang dihiasi rangkaian bunga melati dan ditarik enam ekor kuda putih. Sepanjang kirab Sri Paduka Paku Alam X yang mengenakan pakaian kebesaran warna hitam bercorak emas, ramah menebar senyum dan melambaikan tangan kepada warga. "Matur Nuwun" ucapan terima kasih beberapa kali disampaikan Paku Alam X kepada warga yang mengeluelukannya.
 KGPAA Paku Alam X

Rombongan Kirab Ageng Jumeneng Dalem Sri Paduka Paku Alam X mulai kembali ke Puro Pakualaman setelah menjalani kirab keliling kota Yogyakarta sekitar pukul 16.30 WIB. Begitu tiba di depan Gerbang pintu masuk Puro Pakualaman, rombongan Kirab Ageng Jumeneng Dalem Sri Paduka Paku Alam X langsung disambut dengan lantunan Gending Coro Balen sebagai bentuk penghormatan.

 Kereta yang mengikuti Kirab Ageng

Tak hanya itu, penabuh gamelan yang berada tepat di gerbang pintu masuk puro Pakualaman juga melanjutkan penyambutan dengan melantunkan gending Udan Mas untuk mengiringi Sri Paduka Pakualam X yang turun dari kereta kencana dan kembali ke bangsal Sewatama. Para penabuh gamelan tersebut merupakan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang sejak pagi bertugas menjadi penabuh gamelan.
 Rombongan gajah Memasuki Puro Pakualaman

Di Puro Pakualaman, Permaisuri  Adipati Paku Alam X, telah menunggu kedatangan rombongan kirab dengan berada di Bangsal Sewotomo, Pakualaman. Permaisuri memang tidak mengikuti kirab ini, Sri Paduka Pakualam X hanya seorang diri berada di dalam kereta kencana Manik Kumolo

 Kereta Kyai Manik Kumolo di depan Tratag Bangsal Sewatama

Sumber informasi berita, foto & video :
- Koran kedaulatan Rakyat (KR) edisi tanggal 08 Januari 2016
- Twitter : #JumenenganDalemPAX
- http://krjogja.com
http://krjogja.com/read/286767/galeri-foto-kirab-jumeneng-dalem-paku-alam-x.kr
- http://liputanindonesianews.com/detail/1776/kirab-ageng-jumengan-paku-alam-x.html  
- http://www.antaranews.com/berita/538998/jumenengan-kadipaten-puro-pakualaman-setelah-17-tahun
http://www.tribunnews.com/video/2016/01/09/newsvideo-
http://jogja.tribunnews.com/2016/01/07/pihak-pakualaman-senang-lihat-antusias-tinggi-masyarakat-yogya-pada-proses-jumenengan-pa-x 
https://www.elaenews.com/berita/detail/6506/Galeri-Foto-Kirab-Jumeneng-Dalem-Paku-Alam-X 
http://photo.liputan6.com/lifestyle/senyum-kgpaa-paku-alam-x-saat-kirab-ageng-keliling-yogyakarta-2406675
- https://twitter.com/purapakualaman/status/423013871951962113 
http://www.voaindonesia.com/content/penobatan-kgpaa-paku-alam-x-di-era-modern/3136776.html 



  Video Kirab Ageng Jumenengan Dalem Paku Alam X


Ageman (Busana) Dalem Paku Alam X



Pada prosesi jumenengan dalem dan naik tahta menjadi KGPAA Paku Alam X, pada hari kamis tanggal 07 Januari 2016. Kanjeng Bendara Pangeran Paryo (KBPH) Prabu Suryodilogo mengenakan ageman (busana) kebesaran yang diberi nama Ageman Blenggen. Ageman ini terbuat dari kain bludru hitam. terdapat hiasan  bordir dari benang emas di bagian tepi busana keprabon tersebut & mengenakan udheng atau blangkon. Untuk bagian bawah saat jumenengan KBPH Prabu Suryodilogo mengenakan kain panjang motif Parang Ceplok Kastuba. Selain itu, juga mengenakan kelengkapan busana keprabon lain seperti  sabuk cindhe, selop dan lainnya.


Sedangkan permaisuri mengenakan Ageman Blenggan yang dipadu kain panjang parang ceplok kastuba. hanya saja kelengkapan untuk permasisuri  jauh lebih banyak, karena ada bros berbentuk kupu-kupu dan lainnya yang sifatnya lebih pribadi.



Busana atau ageman untuk jumenengan sedikit berbeda dengan yang dikenakan saat kirab siang harinya. untuk busana masih mengenakan Ageman Blenggen, dipadu celana panji, kain panjang motif sama saat jumenengan serta dilengkapi sabuk boro cindhe sutraa, anggar, blangkon. Ageman yang dipakai KGPAA Paku Alam X tersebut berdasarkan dari sejumlah literasi yang ditemukan. Namun rujukan lebih banyak diambil dari masa Paku Alam I dan Paku Alam II. Karena era setelah Paku Alam I dan Paku Alam II. Para raja Pakualaman biasanya memakai busana hibrida yang lebih dekat dengan kostum opsir colonial, mesti tetap mengidentikkan unsur kejawaannya.



Sumber informasi :
- Koran Kedaulatan Rakyat edisi tanggal 07 Januari 2016



Sabtu, 09 Januari 2016

Pemberian Gelar Bangsawan Untuk Permasuri & keluarga KGPAA Paku Alam X di Kadipaten Pura Pakualaman

Pada Acara Jumenengan Dalem Paku Alam X, KGPAA Paku Alam X juga Paring Dawuh yang selanjutkan  dilaksanakan oleh Kawedanan Ageng Kesentanaan Kadipaten Pakualaman untuk memberikan gelar kepada keluarga dekatnya, yaitu :

 KGPAA Paku Alam X, Istri & anak

1. Istrinya, Bendara Raden Ayu (BRAy) Atika Suryodilogo diangkat menjadi Permasuri dan berhak menyandang nama Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam.

2. Dua putra Paku Alam X juga mendapat kenaikan gelar. Bendara Raden Mas Haryo (BRMH) Suryo  Sri Bimantoro kaparingan kalenggahan sebagai Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro, sedangkan BRMH Bismo Srenggoro Kunto Nugroho mendapat gelar BPH Kusumo Kunto Nugroho.

3. Dua Rayi Dalem (adik kandung PA X) juga mendapat kenaikan gelar. BPH Hario Seno kaparingan kalenggahan menjadi Gusti Pangeran Haryo (GPH) Kusumodilogo dan BPH Hario Danardono Wijoyo menjadi GPH Harimurti.

Penganugerahan gelar baru tersebut dibacakan Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Jurumartani.



Baca Juga : http://dejogjaku.blogspot.co.id/2011/11/menguak-pangilan-dan-gelar-bangsawan.html

Sumber informasi berita & foto :
- Koran Kedaulatan rakyat (KR) edisi tanggal 08 Januari 2016 
- Facebook : Kadipaten Pakualaman
- http://pojoksatu.id/pojok-news/berita-nasional/2016/01/07/hadir-di-jumenengan-paku-alam-x-ini-kata-menag/
-http://daerah.sindonews.com/read/1075040/189/raja-yogya-saksi-jumenengan-gkpaa-paku-alam-x-1452136919

Alur Prosesi Jumenengan Dalem Paku Alam X

Jumenengan Dalem merupakan peristiwa budaya dan bersejarah di Pura Pakulaman Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tepat hari kamis legi tanggal 07 Januari 2016 proses penobatan Paku AlamX dilangsungkan. Hadir tokoh-tokoh nasional dalam peristiwa budaya bersejarah ini seperti Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, Mendagri Tjahjo Kumolo, Mensesneg Pratikno, Mendikbud Anies Baswedan, Menko PMK Puan Maharani, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, anggota DPD asal DIY hingga anggota DPR mulai tingkat pusat hingga daerah. Termasuk tokoh nasional  Presiden ke 5 RI yang juga ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, ulama Buya Syafii Maarif hingga Raja-Raja Nusantara dari berbagai daerah dan tamu undangan lainnya.
Berikut Alur Prosesi inti Jumenengan Dalem Paku Alam X :


1. Pukul 06.00 WIB, Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo yang segera dinobatkan sebagai KGPAA Paku Alam X bersiap di Bangsal Maerakaca komplek Puro Pakualaman.

2. Setelah berada di Bangsal Maerakaca dengan Busana  Keprabon Ageman Blenggen Beludru Hitam dihiasi pernik kuning emas dan Kain Batik panjang Motif Parang Caplok Kastuba, putra mahkota yang akrab disapa kanjeng Bimo tersebut menuju Ndalem Ageng Prabasuyasa melewati Sewarengga. Prosesi ini memiki makna filosofi yaitu perjalanan calon adipati paku alam menuju tanggung jawab.

3. Di Ndalem Ageng itulah KBPH Prabu Suryodilogo akan berdiam menunggu waktu untuk keluar ke Bangsal Sewatama. Ndalem ageng ini, juga sudah menemani dua pusaka Tombak Kanjeng Kyai Paku Baru dan Kanjeng Kyai Buyut yang akan mendampingi saat prosesi penobatan.

4. Dua pusaka tersebut terlebih dahulu keluar dari Ndalem Ageng ke Bangsal Sewatama dengan iringan Gending Ladrang Sembawa Laras Pelog Pathet Lima.
5. Setelah pusaka tersebut berada pada tempatnya, baru KBPH Prabu Suryodilogo mengikuti keluar menuju Bangsal Sewatama diikuti abdi dalem keparak membawa ampilan dalem.

6. Keluarnya KBPH Prabu Suryodilogo diiringi Gending Ketawang Sekarteja Laras Slendro Manyura. Selain itu kehadiran tiga raja lain keturunan mataram juga disambut gending-gending. Raja Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X disambut Gending Ladrang Raja Manggala. Raja Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunan PB XIII disambut Gending Ladrang Sri Katon Slendro Manyura, serta KGPAA Mangkunegara IX dari Pura Mangkunegara Surakarta disambut dengan Gending Ketawang Subokastowo Slendro Manyura.

7. Alunan Gending Monggang yang Munya Angrangin dari perangkat gamelan pusaka " Kyai Rinding disusul penghormatan pasukan  dua bregada Prajurit Lombok Abang dan Prajurit Plangkir mengiringi terselipnya Keris Kyai  Buntit dipingang KBPH Prabu suryodilogo menandakan dinobatkan menjadi KGPAA Paku Alam X ing Kadipaten Pakualaman Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Keris kyai buntit diserahkan KPH Notoatmojo selaku pinisepuh Pura Pakualaman. Kepada PA X disematkan pula Praja Cihnya Bintang Sestra Notokusumo Pakualaman. makna bintang tersebut berharap agar yang bertahta bisa menjadi pengayom bagi keluarga, saudara , kerabat, abdi dalem, dan seluruh rakyat.

 Pemasangan Keris Kyai Buntit

8. Setelah resmi naik tahta, KGPAA PA X resmi menyampaian Sabda Panetaping Karsa yang pertama kali dihadapan ribuan tamu undangan. cuplikan sebagai berikut "Sebagai orang yang mendapat amanah menjalankan tugas KGPAA PA X, saya sampaikan sepenuh hati bahwa kewajiban ini merupakan tugas yang sangat berat untuk melanjutkan tugas leluhur mataram sebagai pengemban kebudayaan " ucap KGPAA PA X.

Pembacaan Sabda Panetaping Karsa

 Isi lengkap sabda panetaping Karsa

9. Jumenengan Dalem dimeriahkan penampilan Bedaya Angronakung ciptaan KGPAA Paku Alam I yang hanya dibawakan pada saat jumenengan. Bertindak selaku penata tari Nyi MT Prabanegara, penata rias Tatik Siswati.

Bedaya Angronakung dibawakan oleh 7 Orang Penari

10. Mengakiri prosesi Jumenengan Dalem, para tamu undangan memberikan ucapan selamat kepada KGPAA paku alam X dan keluarganya.

#JumenenganDalemPAX

Sumber informasi berita, foto & video :
- Koran Kedaulatan Rakyat (KR) tanggal 07 & 08 Januari 2016 (http://epaper.krjogja.com )
- http://www.jogja.co/inilah-sabda-dalem-paku-alam-x-usai-dinobatkan/
- https://www.youtube.com/watch?v=YzPkPEXXKtM
- http://sp.beritasatu.com/nasional/megawati-dan-menteri-kabinet-kerja-hadiri-jumenengan-paku-alam-x/105569
- http://photo.sindonews.com/view/16036/jumenengan-kgpaa-paku-alam-x
-http://news.okezone.com/read/2016/01/07/510/1282612/ini-isi-sabda-dalem-kgpaa-paku-alam-x

 KGPAA : Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya

Video Jumenengan KGPAA Paku Alam X

Rabu, 06 Januari 2016

Jumenengan Dalem Paku Alam X

Salam Budaya,
Sebagai  masyarakat awan yang cinta dengan budaya jawa ingin melihat lebih dekat budaya adiluhur Praja Pakualaman & mencoba merangkum secara sederhana dari berbagai sumber & sosial media di Kadipaten Pakualaman.



Di bhumi Mataram Jawa wilayah Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tepatnya di Kadipaten Pakualaman, anak kandung dari Suwargi KGPAA Paku Alam IX yaitu Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo (nama kecil : BPH Wijoseno Hariyo Bimo) akan dinobatkan sebagai penerus tahta Praja Pakualaman (Pangeran Merdiko). Pada hari kamis Legi tanggal 07 Januari 2016 akan dilakukan penobatan seorang Adipati Arya bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) X. Sesuai dengan hari penobatan dipilih hari kamis Legi tanggal 07 Januari 2015 merupakan tanggal dan hari baik menurut mereka. Kamis Legi itu hari bagus karena pada hari itu, semua permohonan didengarkan, maknanya yakni menyatunya keluarga yang bahagia, berkesinambungan rezeki, dan kewibawaan. Tema Jumengan Dalem adalah Pengemban Kebudayaan.

                             Sengkalan Memet

Orang Jawa memiliki cara yang khas untuk mengingat tahun, terutama tahun terjadinya peristiwa penting. Tahun yang dirujuk oleh sengkalan adalah Tahun Saka dalam kalender lunar (candra) maupun solar (surya). Sengkalan memet menyatakan angka tahun dengan gambar dan cara membacanya dari belakang ke depan. Dalam penobatan/jumengan dalem KGPAA Paku Alam X ing surya 2016 Masehi dengan sengkalan memet yaitu : Sad kartika Aneng Wiyat Ingasta". Sad (6), Kartika (1), Wiyat (0), Asta (2) dengan arti "Enam Bintang dilangit dapat diraih" maknanya "Cita-cita mulia akan terwujud dan membuahkan hasil yang gemilang". Bintang bersudut delapan menunjuk ke delapan penjuru mata angin sekaligus kedelapan Dewa (Asthabrata). Bintang Asthabrata dijadikan pedoman laku keseharian sehingga terbentuk pribadi yang bijaksana. Langit: Alam semesta terang terpancari bintang. Ajaran Asthabrata yaitu wahyu kepemimpian yang mengambil contoh sifat 8 dewa dan 8 unsur alam yaitu :
Sebelum proses jumenengan, calon Adipati melakukan proses nyekar atau berziarah dimakan leluhur di Astana Kota Gedhe (Makam PA I- PA IV) dan makan Astana Giri Gondo (makam PA V - PA IX) untuk memohon kepada Tuhan dan Leluhur.

                      Ziarah kemakam Leluhur Paku Alam

Pada hari sebelum penobatan Adipati, Disekitar halaman Puro Pakualaman dilakukan pemasangan penjor janur kuning yang itu menandakan akan adanya perayaan besar di kadipaten Puro Paku Alaman.

 
Penjor Janur di Gapura Masuk

Proses penobatan/jumengan Adipati Arya akan dilakukan secara sederhana mengikuti aturan adat Kadipaten Pakualaman selama seharian dari pagi hingga sore hari. Persiapan-persiapan sudah dipersiapkan dengan baik oleh kerabat dalem Trah Pakualaman & masyarakat sekitar Puro Pakulaman mulai dari gladi bersih acara penobatan dan acara kirab ageng guna  mensukseskan acara jumenengan dalem karena akan dihadiri tamu-tamu  undangan seperti Presiden & Mantan Presiden RI, Menteri, Kepala Daerah, SKPD DIY, Raja-raja Nusantara, dan masyarakat umum.

Tampak Luar Bangsal Sewatama 

Tampak Dalam Bangsal Sewatama 

Tampak Atas halaman Puro Pakualam

Jumenengan tidak dapat dilakukan di sembarang tempat. Hal ini karena Adipati ‘lenggah’ di Pura Kadipaten Pakualaman yaitu sinewaka di Bangsal Sewatama. Prosesi adat jumenengan adalah rangkaian dari penobatan/ jumenengan. Adapun rangkaiannya adalah sebagai berikut :

1. Yang akan jumeneng lenggah disertai Ampilan Dalem,
2. Menyatakan diri “Paneteping Karsa” dengan dibelakangnya diiringi / disertai pusaka utama berupa “Tombak Kyai Buyut dan Kyai Paku Baru” dalam posisi dibuka dari tutupnya.
3. Pemasangan wangkingan / keris
4. Penyematan tanda jabatan sebagai Adipati oleh sesepuh/yang dituakan di Trah Pakualaman

Setelah dinobatkan menjadi seorang Adipadi di Kadipaten Pakualaman,  KBPH Prabu Suryodilogo  (Pangeran Pati) bergelar :
SAMPEYAN DALEM KANGJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARYA (K.G.P.A.A) PAKU ALAM INGKANG JUMENENG KAPING SADASA ING PRAJA DALEM KADIPATEN PAKUALAMAN.

Ampilan, Istilah ini dipakai untuk menyebut benda-benda yang dibawa mengiringi Adipati  pada upacara-upacara kerajaan. Ampilan yang sebagai suatu kesatuan disebut Kanjeng Kiai Ampilan Dalem ini terdiri atas: dhampar kencana , anak panah dengan busurnya, pedang dengan perisainya, lar badhak (= semacam kipas besar dari bulu merak), Alquran, sajadah, payung kebesaran, dan tombak

                             Alur Prosesi Jumeneng Dalem

Pada acara penobatan Adibati dikeluarkan Gangsa Monggang "Kyai Rinding" Yaitu Gamelan kehormatan yang ditabuh hanya pada saat upacara Jumenengan Dalem  (Penobatan Adipati). Gamelan Kyai rinding merupakan peninggalan dari KGPAA Paku Alam I.

 
Gangsa Monggang "Kyai Rinding"

Pada sore harinya adalah kirab ageng. Kirab dengan kereta untuk memperkenalkan diri dengan kawula Dalem (rakyat/masyarakat) adanya Adipati yang baru.  Untuk rutenya : melalui jalan Sultan Agung, Gajahmada, Bausasran, Gayam, Cendana, Kusumanegara dan kembali ke Pakualaman. Total semua petugas pengamanan sebanyak 2.500 orang yang berasal dari unsur TNI/Polri, instansi pemerintah terkait, organisasi masyarakat, perguruan pencak silat serta berbagai komunitas lainnya. Kereta-kereta yang nanti bakal dipergunakan dalam kirab ageng jumeneng dalem PA X, mengingat kereta tersebut sudah ada yang berusia lebih dari dua abad. "Kereta tersebut adalah Kyai Manik Kumala, Nyai Roro Kumenyar, Kyai Brojonolo serta Kyai Manik Brojo. Kereta-kereta ini akan ditarik oleh sedikitnya 30 ekor kuda.

Rangkaian kirab ageng sesuai siaran pers gladi kirab ageng jumeneng dalem Paku Alam X (minggu, 03 Januari 2016)  adalah sebagai berikut :

Rangkaian Pembuka :
1. Mobil Vooraider
2. Marching Band
3. Paskibraka

Rangkaian Utama :
1. Gajah --> Gajah yang terlibat dalam kirab ageng ada 4 ekor. Masing-masing bernama Sibaya (32 tahun), Cempaka (25 tahun), Natasya (24 tahun) dan Gilang  (17 Tahun). Tiga gajah disebut pertama adalah koleksi Kebun Binatang Gembira Loka, sedangkan Gilang adalah milik kasultanan Yogyakarta.

               Gajah Bernama Gilang milik Kasultanan Yogykarta
2. Manggala Yudha Pakualaman
3. Bendera Kadipaten Pakualaman
4. Prajurit Lombok Abang

                          Prajurit Lombok Abang

8. Kereta Kyai Manik Kumolo --> Kereta yang telah berusia dua abad. Kereta ini merupakan hadiah letnan Gubernur Jendral Sir Thomas Raffless kepada KGPAA Paku alam I tahun 1812. Kereta dengan model Landoulet in Riemen ini diproduksi di pabrik F. Muers London tahun 1800-1810. Warna cat kuning muda dengan pelisir hitam. Nantinya dalam kirab akan digunakan oleh KGPAA Paku Alam X & Permasuri.
                           Kereta Kyai Manik Kumolo

9. Kereta Kyai Rejo Pawoko (Ampilan Dalem) --> Kereta ampilan dalem koleksi kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibuat tahun 1901 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

                          Kereta Kyai Rejo Pawoko

10. Kereta Kyai Jaladara --> Kereta baru warna hitam glossy milik kadipaten pakualam yang selesai diproduksi Desember 2015 dibengkel balai latihan pendidikan teknik BLPT pemerintahan DIY. Rencana kereta ini akan digunakan oleh adipati arya yang sudah jumeneng/dinobatkan

 Kereta Kyai Jaladara

11. Kereta Nyai Rara Kumenyar --> Kereta yang diproduksi di H & A Holmes Derby Lichfield & london tahun 1900. kereta dengan model berline dengan warna hijau tua dan hitam dengan pelisir kuning keemasan ini hadiah Sri susuhunan Paku buwana X kepada putera mantunya yakni Sri paduka paku alam VII.

                            Kereta Nyai Rara Kumenyar
12. Kereta Kyai Brojonolo --> Kereta yang dibuat pabrik kereta jones freres Bruzelles tahun 1900. kereta berwarna biru tua dan hitam dengan pelisir kuning ini adalah hadiah pemerintah Belanda kepada sri paduka paku alam VII.

                            Kereta Kyai Manik Brojo

13. Kereta Kyai Manik Brojo -- > Kereta dengan model Coupe Driekwart ini diproduksi tahun 1870-1890 di Herman's Hage.
14. Prajurit Plangkir

                                  Prajurit Plangkir
15. Prajurit Kavaleri

Rangkaian Penutup :
1. Marching Band
2. Mobil Ambulance
3. Mobil Pendukung

Acara Penobatan & Kirab Ageng akan disiarkan secara live dan ekslusif oleh Jogja TV, TVRI Jogja  & TVRI Nasional serta Televisi Nasional Lainnya. Jadi masyarakat umum yang tidak bisa menyaksikan secara langsung di Puro Paku Alaman dapat melihat di TV masing-masing.

Rute Kirab Ageng

Maka dengan demikian posisi “K.B.P.H. Prabu Suryodilogo” sebagai “K.G.P.A.A. PAKU ALAM X” adalah “Sah dan Legal ”.

Menurut informasi Romo Tirun (Penghageng Tepas Dwarapura Kraton Yogyakarta) yangg dikutip pada Krjogja.com menjelaskan kedudukan seorang adipati dari Pakualaman di Kraton 'Ngenemi' atau lebih muda pangkatanya dibelakang di Putra Mahkota Kraton Yogyakarta. Karena tidak ada putra mahkota Kraton Yogyakarta maka posisinya dibelakang langsung Raja Kraton Yogyakarta. Tugas-tugas Adipati Pakualaman memang mempunyaki posisi sendiri, sebab seorang Paku Alam itu adalah seorang Pangeran Merdiko (pangeran yang bebas) sehingga mempunyai peraturan atau pranatan sendiri.  


                             KGPAA Paku Alam X

Semoga acara jumengan dalem Paku Alam X berjalan lancar & masyarakat dapat menyaksikan tradisi budaya pakualaman.

#MangayubagyoJumenengDalemKGPAAPakuAlamX

#JumenengDalemPAX
Sumber Informasi & Foto :
-Facebook : Kadipaten pakualaman
-Facebook : Jumeneng dalem KGPAA Paku Alam X
-Facebook : info seni jogja
-Twitter : #JumenengDalemPAX