Terpopuler

Sabtu, 05 Mei 2012

Mitologi Gunung Merapi


Banyak mitos yang berkembang di masyarakat terutama yang tinggal di sekitar lereng gunung merapi. yang paling menonjol adalah keberadaan Eyang Sapu Jagad, sosok gaib penunggu gunung merapi. berbicara tentang eyang sapu jagad tidak dapat dilepaskan dari kanjeng ratu kidul  sosok gaib penunggu laut selatan jawa.

Berawal saat sutawijaya (kemudian bergelar panembahan Senopati) anak dari ki ageng pemanahan. bertapa di pantai laut selatan. Dalam laku tapa tersebut sutawijaya bertemu , berkenalan saling jatuh cinta dan menikah  dengan kanjeng ratu kidul. sutawijaya mengutarakan niatnya untuk membangun kerajaan baru. singkat cerita kanjeng ratu kidul berkenan membantu dengan sepenuh hati. sebagai tanda kesungguhan dan cintanya. kanjeng ratu kidul menghadiahi " Ndhog Jagad" yang kemudian dititipkan  kepada kyai sapu jadag.

Apa yang ingin disampaikan dari mitologi  diatas  adalah bahwa sapu jagad berarti  menyapu jagad. sapunya jadag dunia. jadag yang dimaksud adalah diri pribadi manusia, jagad cilik dunia kecil (mikrokosmos) denagn demikian  sapu jagad  adalah konsep  spiritualitas  dalam  kesadaran membersihkan diri pribadi, hati dan pikiran. sedangkan kanjeng ratu kidul  berasal dari kata "Rat" yang berarti maha luas, tak terbatas . ide , pemikiran pemikiran manusia sering  kali tak terbatas. untuk itu dalam mewujudkan dalam keterbatasan di perlukan batasan -batasan berupa simbol untuk mewujudkan, membumikan ide, gagasan manusia. endhog jagad. endhog berarti telur sifatnya embriotik, bakal. apa yang dilakukan suta wijaya adalah mentranplantasi sebuah gagasan abstrak kedalam realita melalui pergulatan batin, bersih diri dan akhirnya mendapatkan pencerahan, maka dia berdiri dibarisan paling depan untuk mewujudkan berdirinya kerajaan baru mataram. eksistensi mataram saat itu boleh jadi karena tuntutan kebutuhan, kebutuhan akan perlunya "peradaban baru"

Mitologi merapi - laut selatan sudah saatnya kita sikapi dengan cara pandang modern. kita perlu menenggelamkan dan memperabukan pemikiran dan cara pandang lama, mengganti dengan yang baru. dengan niat sungguh-sungguh , hati bersih, sepi ing pamrih rame ing gawe. kita akan mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di gunung merapi maupun laut selatan untuk kepentingan rakyat banyak. dengan demikian layaknya kita disebut sebagai manusia beradab yang hidup didalam peradaban baru. (Aloysius Heri)




Berwisata Ke Ullen Sentalu Kaliurang


Tak ada rencana ke ullen sentalu, dan itu rencana dadakan karena penulis diajak oleh ke kaliurang (kali adem) dan terus diajak ke ullen sentalu karena tempatnya tidak terlu jauh dari kali adem. penulis juga baru pertama kali  ke ullen sentalu. ketiga sampai di kaliurang (tempat wisata rekreasi Kaliurang) penulis tidak tahu arahnyanya, karena museum ullen sentalu tidak ada denahnya yang ada malah denahnya  tlogo putri dan gardu pandang. penulis mencoba bertaya kepada penjual  pecel tidak jauh dari situ. ternyata dari tempat rekreasi ada 2 persimpangan jalan, ambil ke arah kiri dari persimpangan jalan itu terus ada jalan naik (arah gardu pandang) dan turun . Ambil jalan turun dekat gereja belok kanan. disitulah terletak museum ullen sentalu. alam banget tempatnya dan tentunya masih asri. ternyata ini museum swasta dan yang memilikinya adalah yayasan kepunyaan orang jogja juga. 

Setelah memarkirkan sepada motor, penulis langsung membeli tiket. harga tiketnya Rp 25.000 (domestik), harga tiket masuknyanya beda dari museum2 lainnya. harga tersebut pantas dengan keindahan yang ada didalamnya dan sudah termasuk pemandunya yang menerangkan isi dari museum tersebut. walaupun cuma 1 orang pun tetap ada pemandunya. dan ternyata pemandunya rumahanya jauh dari museum tersebut. setelah mendapatkan tiket. petugas pintu masuk mengambil tiket dan menyobek tiket bagian bawah dan menulis daftar rekapannya ke buku dan ditanya juga dari kota mana. kita masih menunggu pemandunya datang dan kita masih bercanda2 dulu dan tentunya foto-foto depannya. tak sampai dari 10 menit menungu datanglah seorang pemandu wanita. sebelum masuk ke museum ullen sentalu, pemandu menerangkan tata tertip salah satunya tidak boleh memoto didaerah yg bertanda khusus.langsung kita masuk ke area bawah tanah, namanya Goa sela giri.
ketika masuk ruangan goa Sela Giri ini dibuat takjub dan kagum. serasa berada di sebuah keraton yang hilang. seperangkat gamelan merupaka kali pertama dilihat di museum ini. pemandu menjelaskan secara detail setiap benda disitu. jadi pengunjung tidak hanya melihat saja yg tanpa arti tapi dijelaskan secara detail. pengunjung juga belajar dari sebuah museum sebuah masa lalu yg hilang. barang-barang yang ada di museum ini tidak ada di museum kraton baik jogja maupun surakarta. benda-benda dimuseum ulen sentalu lebih banyak berbau-bau kraton trah dinasti mataram jawa (Kasultanan Nyagyakarta Hadiningrat, Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kadipaten Pakualaman, Kadipaten Mangkunegaran). lorong demi lorong dilewati. hanya tertegun kagum. yang terkenal dari museum ini, ada ruang khusus yang didedikasikan kepada gusti nurul , seorang bangsawan putri Mangkunegara VII, seorang wanita pintar, cantik dan mempunyai mempunyai prinsip anti poligami.

setelah berputar-putar ke ruang demi ruang, kita dijamu sebuah minuman khas jawa, seperti wedang jahe. setelah itu dibawa di ruang pamer selanjutnya, namanya kaswargan seperti nama makan di imogri (makan raja Jogjakarta HB IX). disana didisambut oleh beberapa arca salah satunya bernama Ganesha, Dewi sri dan masih Banyak lagi.

ruang kaswargan lebih banyak foto  HB IX , HB X dan permasurinya serta keluarga istana lainnya. dan patung manten paes ageng gaya jogjakarta.  ternyata setiap benda yang dikenakan  manten wanita syarat makna dan filosofi. sebagai contoh kain rama shinta, biar cintanya abadii seperti rama dan sinta.
busana paes ageng selain digunakan sebagai acara sakral pernikahan juga digunakan sebagai busana penari. seperti tari bedaya ketawang (surakarta) dan tari bedaya Semang (jogja) , tarian khusus saat jumengan /ulang tahun naik tahta sultan atau sunan yang beranggotakan 9 penari dan konon 1 penari yang tak tampak adalah Kanjeng Nyi loro kidul. 

setelah berkeling-keliling akhirnya kita sampailah ke sebuah galeri atau tempat belanja dan kafe yang berada di belakang museum tersebut. selain itu pengunjung dapat berfoto-foto mengabadikan sebagai tanda /oleh-oleh dari tempat tersebut dan selesai juga kita ke museum Ullen sentanu. kita akan rekap tempat- tempat di museum tersebut . 

Museum Ullen Sentalu sudah memiliki beberapa ruang, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa Sela Giri, 5 ruangan di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya.
  1. Ruang Selamat Datang : Merupakan ruang penyambutan Tamu. Juga terdapat banner yang berisi latar belakang pendirian Museum Ullen Sentalu dan Arca Dewi Sri, simbol kesuburan.
  2. Ruang Seni Tari dan Gamelan : Dalam Ruangan ini terdapat seperangkat gamelan yang dihibahkan oleh salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Gamelan tersebut sempat dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang orang dan pagelaran tari di keraton Yogyakarta. Selain itu juga terdapat beberapa lukisan tarian.
  3. Guwa Sela Giri : Berlokasi di bawah tanah untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram.
  4. Kampung Kambang : Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Terdiri dari 5 ruang :
    • Ruang Syair untuk Tineke : Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Melalui syair-syair tersebut terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton.
    • Royal Room Ratu Mas : Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.
    • Ruang Batik Vorstendlanden : Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII – Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Perpaduan keindahan seni batik dan makna-makna filosofis yang dikandungnya menguak suatu warisan budaya intangible yang sangat kaya.
    • Ruang Batik Pesisiran : Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.
    • Ruang Putri Dambaan : Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002.
  5. Koridor Retja Landa : Merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. pada masa itu berkembang agama dan budaya Hindu Budha, sehingga ada pemujaan pada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan pada arca-arca dewa tertentu.
  6. Ruang Budaya : Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.
  7. Sarana Pendukung:
    1. Taman : Selain bangunan fisik, areal Taman Kaswargan didominasi oleh hutan alami dan bagian-bagian taman yang menonjolkan atmosfer pegunungan. Pada bagian-bagian tertentu terdapat patung-patung yang menjadi museum outdoor.
    2. Beukenhof Restaurant : Rancang bangun Taman Kaswargan sebagai obyek wisata budaya dan alam tak terelakkan harus dilengkapi dengan sarana pendukung lain, seperti restaurant. Restaurant Beukenhof diambil dari bahasa Belanda yang berarti bangunan yang dikelilingi pohon-pohon, seperti yang dapat pengunjung nikmati di restaurant dengan bangunan yang dirancang bergaya arsitektur kolonial .
    3. Art Shop : Toko souvenir didirikan sebagai pendukung dalam unsur pariwisata kawasan Taman Kaswargan.

Terima kasih

Sabtu, 28 April 2012

Sekedar tahu prosedur buat Paspor/SPRI


Kali ini penulis mau menceritakan cara /prosedur dalam pembuatan paspor.  waktu itu penulis belum berencana untuk membuat paspor tapi karena keadaan harus membuat paspor karena tahun ini berencana ke luar negeri walau sekedar jalan-jalan wisata. penulis mengunakan jalur normal dalam pembuatan paspor dengan total waktu 1 minggu (7 Hari Kerja). 
kantor imigrasi dalam proses pelayanan paspor buka mulai pukul 8  pagi hingga pukul 12 siang. sebelum mengantri ke loket. penulis langsung menuju koperasi imigrasi untuk membeli sampul pasport warna hijau , map dan formulir pengajuan karena di seragamkan  sebesar 10 ribu. setelah itu  antri untuk pengumpulan berkas. ternyata habis pengumpulan berkas tidak langsung bayar dan foto tapi harus beda hari. jadi pengumpulan berkas bisa di wakilkan dengan cara pakai surat kuasa. untuk antri dan mengumpulkan berkas tidak sampai 10 menit selama yg syarat-syaratnya lengkap, prosesnya juga cepat. oh ya jangan lupa bawa dokumen aslinya juga. setelah dokumen dianggap lengkap akan dikasih selembar kertas berisi undangan kita untuk foto dan bayar pasport itu.
hari berikutnya (hari kedua), antri untuk bayar paspor, jangan lupa bawa undangannya. jam 8 pagi petugasnya masih siap-siap jam 8.15 loket pembayaran baru dibuka. klo jalur normal pembayaran 255 ribu. setelah itu masih menunggu lagi proses foto, sidik jari dan wawancara , lama menunggunya jam 9 pagi baru dipanggil. setelah itu di berikan tanda terima untuk pengambilan paspor 4 hari kemudian. pengambilan paspor bisa dilakukan bukan kita (diwakilkan) dengan cara menggunakan surat kuasa bermaterai .proses pengambilan paspor tidak terlalu lama. setelah paspor didapat, diwajibkan untuk fotocopy paspor tersebut, paspor yg asli dibawa kita sedangkan yg copynya diserahkan ke kantor imigrasi. Sekian

PERSYARATAN PERMOHONAN PASPOR RI
1.      Mengisi formulir permohonan paspor RI dengan benar dan lengkap (perdim 11, yang dapat diperoleh di kantor imigrasi);
2.       Melampirkan berkas asli dan foto kopi identitas diri, antara lain ;
§         Kartu Tanda Penduduk (KTP);
§         Akte Kelahiran (KK) dan atau Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah (salah satu boleh)
§         Surat Kawin/Akte Nikah bagi yang telah menikah;
3.        Paspor RI yang lama bagi pemohon penggantian paspor RI;
4.       Surat ganti nama (jika direncanakan akan dilakukan perubahan atau pergantian nama)
5.    Rekomendasi tertulis dari atasan atau pimpinan bagi mereka yang bekerja sebagai PNS, karyawan BUMN,  TNI/Polri atau Karyawan Swasta;
6.     Pemohon melakukan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku (Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2009 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di lingkungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI).
 
B.       PERSYARATAN  UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR (DIBAWAH 17 TAHUN)
1.      Mengisi formulir permohonan paspor RI dengan benar dan lengkap (perdim 11, yang dapat diperoleh di kantor imigrasi);
2.       Melampirkan berkas asli dan fotokopi identitas diri, antara lain;
    • akte lahir;
    • KTP orang Tua;
    • Kartu Keluarga;
    • STTB/Ijazah, atau Akte Lahir Orang Tua;
    • Surat Kawin/Nikah Orang Tua;
    • Foto Kopi Paspor Orang Tua yang masih berlaku;
3.       Paspor RI yang lama bagi pemohon penggantian paspor RI;
4.       Melampirkan surat pernyataan tertulis materai Rp 6000 dari Orang Tua.
5.     Pemohon melakukan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku (Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2009
          tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di lingkungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI).
 
Pengajuan permohonan paspor dilakukan di kantor Imigrasi dengan beberapa tahapan, antara lain :
 
1.       Pengisian Formulir
a.     Pemohon atau yang diberi kuasa mengisi formulir sesuai dengan kolom yang telah ditentukan.
b.     Dalam hal permohonan SPRI diajukan melalui website, yang selanjutnya disebut pra permohonan, pemohon atau yang diberi kuasa wajib mengisi formulir elektronik dan memindai persyaratan, serta mencetak tanda bukti pra permohonan.
 
2.       Antrian
a.Pemohon mengambil nomor antrian elektronik atau manual pada Kantor Imigrasi atau Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI sesuai tahapan proses.
b.     Mesin antrian akan memanggil secara otomatis dan menampilkan nomor antrian pada layar monitor atau petugas loket memanggil pemohon sesuai nomor antrian.
 
3.       Pengajuan Permohonan SPRI
a.Permohonan SPRI diajukan kepada petugas loket pada Kantor Imigrasi atau Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI oleh pemohon atau yang diberi kuasa.
b.     Dalam hal permohonan diajukan melalui website, pemohon atau yang diberi kuasa wajib menyerahkan tanda bukti pra permohonan.
c.Petugas loket menerima dan memeriksa kebenaran persyaratan asli yang dibawa oleh pemohon atau yang diberi kuasa.
d.     Petugas loket menolak permohonan dan memberikan bukti penolakan sesuai ketentuan yang berlaku, apabila ditemukan rincian biodata sama dengan daftar pencegahan.
e.     Petugas loket memberikan tanda terima kepada pemohon yang telah memenuhi persyaratan.
 
4.       Pembayaran Tarif Keimigrasian
a.Bendahara penerima pada Kantor Imigrasi atau pada Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI menerima pembayaran tarif keimigrasian sesuai ketentuan yang berlaku.
b.     Bendahara penerima mencetak serta memberikan tanda terima pembayaran.
 
5.       Pengambilan Foto Wajah dan Sidik Jari
a.Pemohon wajib datang pada saat pengambilan foto wajah dan sidik jari.
b.     Petugas Imigrasi melakukan pengambilan foto wajah dan sidik jari terhadap pemohon sesuai dengan nomor antrian pada tanda terima pembayaran.
c.Petugas Imigrasi melakukan pengambilan foto wajah pemohon dalam posisi menghadap ke depan lensa kamera.
d.     Petugas Imigrasi melakukan pengambilan sepuluh sidik jari tangan pemohon, dimulai dari jempol kanan, telunjuk kanan, tengah kanan, manis kanan, kelingking kanan dilanjutkan dengan jempol kiri, telunjuk kiri, tengah kiri, manis kiri dan kelingking kiri.
e.     Petugas Imigrasi membuat catatan pada kolom petugas dalam hal:
1)   Terdapat kelainan pada jari pemohon; dan
2) Sidik jari telah dilakukan berulang kali, namun sistem belum dapat mendeteksi sidik jari pemohon.
f. Petugas Imigrasi tidak perlu mengambil sidik jari bagi anak yang berusia dibawah 3 (tiga) tahun dengan membuat catatan pada kolom petugas.
 
6.       Wawancara
a.Pemohon wajib datang dengan menunjukkan dokumen asli sebagai persyaratan pada saat proses wawancara.
b.     Petugas wawancara melakukan penelitian tentang kelengkapan dokumen persyaratan asli, serta menuangkan hasil penelitian pada kolom catatan petugas dan formulir yang telah disediakan.
c.Petugas wawancara wajib memasukkan data alamat lengkap (Kecamatan, Kota/Kabupaten, Provinsi) dan bilamana diperlukan memasukkan data alamat lain yang bisa dihubungi selain alamat pada KTP.
d.     Petugas wawancara mencetak biodata pemohon, selanjutnya pemohon menandatangani hasil pencetakan dan blangko SPRI.
e.     Petugas wawancara dapat menangguhkan proses selanjutnya apabila pada hasil penelitian ditemukan kecurigaan tentang identitas dan jati diri pemohon untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan apabila hasil penelitian lanjutan terbukti adanya pelanggaran keimigrasian maka permohonannya dapat ditolak dengan membuat keterangan pada kolom catatan petugas.
 
7.       Identifikasi Foto Wajah dan Sidik Jari
a.Petugas wawancara mengirim data foto wajah dan sidik jari serta identitas diri ke Pusat Data Keimigrasian (Pusdakim) untuk dilakukan identifikasi.
b.     Sistem identifikasi pada Pusdakim secara otomasi akan memberikan jawaban kepada Kantor Imigrasi atau Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI berupa persetujuan atau tindak lanjut.
c.     Dalam hal proses identifikasi foto wajah dan sidik jari jika ditemukan duplikasi maka Kepala Kantor Imigrasi atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI atau pejabat yang diberi wewenang, melakukan pemeriksaan yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Pendapat untuk selanjutnya dilakukan proses sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
 
8.       Pencetakan SPRI
a.Petugas yang diberi wewenang, melakukan pencetakan halaman biodata pemohon dan halaman catatan resmi/official notes, serta halaman
b.     pengesahan/endorsements (jika diperlukan) setelah mendapat persetujuan identifikasi foto wajah dan sidik jari dari Pusdakim, dan melakukan laminasi blangko SPRI.
c.     Petugas yang diberi wewenang, melakukan uji kualitas pencetakan dan laminasi, dalam hal ditemukan cacat produksi maka dilakukan penggantian blanko SPRI tanpa dikenakan tarif.
 
9.       Perubahan Data Pemegang SPRI
Dalam hal terjadi perubahan data pemegang SPRI yang meliputi perubahan alamat, penambahan atau perubahan nama dan/atau perubahan pekerjaan dapat dilakukan disetiap Kantor Imigrasi atau Sub Direktorat Dokumen Perjalanan atau Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI dilakukan sesuai prosedur, melalui tahapan:
a.     Pengajuan permohonan;
b.     Persetujuan Kepala Kantor Imigrasi atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI atau pejabat yang diberi wewenang untuk memproses sesuai ketentuan yang berlaku; dan
c.     Pencetakan halaman pengesahan/endorsements, dan selanjutnya dibubuhkan paraf oleh Kepala Kantor Imigrasi atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI atau pejabat yang diberi wewenang.
 
10.       Penandatanganan SPRI
a.     Kepala Bidang atau Kepala Seksi Lalu Lintas dan Status Keimigrasian atau Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian atau pejabat yang diberi wewenang membubuhkan paraf pada SPRI.
b.     Kepala Kantor Imigrasi atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI atau pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPRI dan menyerahkan kepada petugas untuk diterakan cap dinas untuk selanjutnya diserahkan kepada Petugas Loket.
 
11.       Penyerahan SPRI
a.     Petugas Loket melakukan pemindaian halaman tanda tangan Kepala Kantor Imigrasi atau Kepala Sub Direktorat Dokumen Perjalanan TKI dan halaman catatan petugas dan selanjutnya menyerahkan kepada pemohon atau yang diberi kuasa.
b.     Pemohon atau yang diberi kuasa, menandatangani tanda bukti penerimaan SPRI pada kolom penerimaan.
 
(Prosedur Permohonan Pengajuan SPRI/Paspor berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor : Imi-891.GR.01.01 Tahun 2008 Tentang Standar Operasional Prosedur Sistem Penerbitan Surat Perjalanan Republik Indonesia)

Jumat, 16 Maret 2012

Makam Para Raja Mataram Jawa

Kali ini blusukan jogja, akan mengulas tentang makam atau tempat peristirahatan terakhir para raja mataram jawa yakni makan raja di kotagede, makam imogiri, makam girigondo, makam Astana Mangadeg, dan makam Astana Girilayu

1. Makam Raja di Kota Gede 
Kotagede merupakan sebuah kawasan yang terletak sekitar 10 km sebelah selatan Kota Yogyakarta. Dahulu, kawasan Kotagede merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada pertengahan abad XVI M. Di kawasan ini terdapat kompleks makam raja-raja Mataram, yang menjadi tempat dimakamkannya Panembahan Senapati, raja pertama Mataram Islam.

Kompleks Makam ini, berada sekitar 50 m sebelah selatan Pasar Gede, Kecamatan Kotagede. Selain terdapat makam Panembahan Senapati, di kompleks pemakaman ini juga terdapat makam keluarga raja lainnya. Di antaranya adalah, Ki Ageng Pemanahan yang merupakan ayah dari Panembahan Senapati, Nyai Ageng Nis dan P. Djoyo Prono yang merupakan eyang dari Panembahan Senapati, Sri Sultan Hamengku Buwono II, dan juga Pangeran Adipati Pakualam I

2. Makam Imogiri
Terletak di lereng perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Makam Imogiri seolah menegaskan status sosial dan politik orang-orang yang dikuburkan di tempat ini. Bukit dengan + 409 tangga ini memang dikhususkan untuk makam raja dan kerabat Kerajaan Mataram Islam serta keturunannya. Bagi masyarakat Jawa, gunung atau bukit menyimbolkan status yang tinggi sekaligus merupakan upaya mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Selain makam Sultan Agung, di tempat ini juga dimakamkan 23 raja keturunan Sultan Agung, termasuk dari dinasti Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan Yogyakarta. Makam raja-raja ini terbagi ke dalam delapan kelompok, yaitu: 1. Kasultanan Agungan (makam Sultan Agung, permaisuri, Hamangkurat Amral, dan Hamangkurat Mas); 2. Paku Buwanan (makam PB I, Hamangkurat Jawi, dan PB II); 3. Kasuwargan Yogyakarta (makam HB I dan HB III); 4. Besiyaran Yogyakarta (makam HB IV, HB V, dan HB VI); 5. Saptorenggo Yogyakarta (HB VII, HB VIII, dan HB IX); 6. Kasuwargan Surakarta (makam PB III, PB IV, dan PB V); 7. Kapingsangan Surakarta (makam PB VI, PB VII, PB VIII, dan PB IX); 8. Girimulya Surakarta (makam PB X, PB XI, dan PB XII).

Secara umum denah atau susunan makam raja-raja ini menyerupai segitiga. Pada bagian atas terdapat makam Sultan Agung, di sisi timur terdapat makam Raja-raja Kesultanan Yogyakarta, dan di sisi barat terdapat makam Raja-Raja Kasunanan Yogyakarta. Pemisahan makam raja-raja keturunan Sultan Agung merupakan imbas dari perlawanan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) terhadap kakaknya, Paku Buwono II. Akibat perang tersebut, muncul Perjanjian Giyanti (tahun 1755 M) yang memisahkan Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

3. Makam Girigondo
Terletak di area perbukitan menoreh, Komplek Pemakaman Astana Girigondo ini diperuntukkan bagi para Raja dan kerabat Pakualaman. Astana Girigondo pertama kali digunakan sebagai makam KGPAA Paku Alam V, yaitu pada bulan September 1900. Kompleks makam ini secara garis besar dibagi menjadi 6 teras, dan tiap-tiap teras dihubungkan dengan tangga. Pada teras I (yang paling tinggi) dikelilingi tembok dan pagar besi setinggi 2,40 m dengan gapura masuk dan pintu gerbang dari besi.

Makam ini merupakan tempat pemakaman kerabat Paku Alam. Di sini dimakamkan KGPAA Paku Alam V, VI, VII, VIII beserta keluarganya, sedangkan KGPAA Paku Alam I sampai dengan IV dimakamkan di pemakaman Hastorenggo, Kotagede, Yogyakarta. Penuhnya areal pemakaman di Hastorenggo, membuat Paku Alam V akhirnya mencari tempat lain untuk pemakaman kerabat Paku Alam, yaitu di Girigondo ini. Latar belakang pemilihan lokasi makam di Kulonprogo ini berkaitan erat dengan asal-usul KGPAA Paku Alam V yang merupakan putra KGPAA Paku Alam II dari Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu, Tirtarahayu, Galur, Kulonprogo  

4. Makam Astana Mangadeg 
Kompleks pemakaman untuk penguasa awal ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja mangkunegara . Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara I (MN I), MN II, dan MN III; pemakaman ini berada di puncak bukit kecil (bernama Bukit Mangadeg) di kaki Gunung lawu, di sebelah timur pusat Kecamatan Matesih. Tempat ini sendiri sebelumnya adalah tempat Mangkunagara I bersemedi pada masa perjuangannya (sebelum menjadi raja ia bernama R.M. Said)

5. Makam Astana Girilayu
Kompleks pemakaman  untuk penguasa ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegara. Di kompleks ini dimakamkan Mangkunegara IV, Mangkunegara V, mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII (penguasa terakhir yang mangkat) 



Minggu, 19 Februari 2012

Sumur Gemulir Masjid Bawah Tanah Saraf Filosofi

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa bangunan yang bernama Sumur Gumuling dulunya adalah sebuah masjid bawah tanah yang digunakan pada jaman kejayaan Kraton Jogja. berada dalam komplek taman sari kraton jogja.

Sumur Gumuling merupakan bangunan masjid yang memiliki banyak filosofi dari segi arsitekturnya. Pintu utama Sumur Gumuling hanya terdapat 1 buah, sehingga bilamana kita memasuki dan keluar dari bangunan tersebut harus melewati 1 pintu. Hal tersebut mengartikan bahwa manusia itu lahir dan mati akhirnya akan kembali ke tangan Tuhan. Sumur yang dimaksud itu sendiri ada di tengah-tengah bangunan. Di atas sumur tersebut terdapat tangga-tangga untuk menuju ke lantai dua. 

Tangga-tangga tersebut ada 5, yang mana menunjukkan 5 macam Rukun Islam. Empat diantaranya menuju ke tengah membentuk suatu pelataran kecil dan satu tangga lainnya menghubungkan ke lantai 2. Maksudnya satu tangga ke atas menunjukan bilamana kita telah “mampu” maka kita bisa menuaikan Rukun Islam yang ke-5 yaitu Menuaikan Ibadah Haji. 

Pada bangunan lantai 2 terdapat 4 jendela yang mengartikan arah mata angin. Nama Sumur Gumuling itu berarti dari Sumur yang mana Makmum(Umat)-nya berada di sekelilingnya. Imam yang memimpin tidak perlu menggunakan pengeras suara karena konstruksi bangunan yang melingkar menyebabkan adanya gema yang menyebabkan suara menjadi lebih keras.

nDalem Di Kawasan kraton Jogja

nDalem mrupakan rumah para bangswan/ golongan darah biru di lingkungan keraton jogja.Berikut nDalem yang Berada di Kraton Yogyakarta :
1. Ndalem Joyokusuman di Jalan Rotowijayan Cetak
     Dalem Joyokusuman dibangun pada tahun 1916, ketika masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Dalem ini didiami oleh Raden Wedono Condrokusumo, sepupu Sultan Hamengku Buwono VII, oleh karena itu pada awalnya dalem ini diberi nama Dalem Condrokusuman. Setelah Raden Wedono wafat, dalem ini ditempati oleh salah satu adik Sultan Hamengku Buwono IX, yaitu GBPH Bintoro, seorang ajudan Sultan. Setelah GBPH Bintoro meninggal, dalem ini ditempati oleh GBPH Joyokusumo, adik bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X semenjak tahun 1988 sampai sekarang dan kemudian disebut sebagai Dalem Joyokusuman. Saat ini selain berfungsi sebagai rumah tinggal, nDalem ini digunakan juga sebagai tempat kunjungan wisatawan, yaitu dengan menyediakan jamuan makan siang dan malam dengan menu masakan Sultan. Berbagai kegiatan tradisional juga dapat dilihat di dalem ini seperti proses pembuatan batik tulis, dan latihan gamelan. Selain itu, nDalem ini seringkali juga digunakan sebagai tempat pameran.
2. Ndalem Kaneman di Jalan Kadipaten Cetak
Dalem – sebutan untuk rumah pangeran – ini dibangun pada tahun 1855 pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V dan digunakan pertama kali oleh KRT Suronegoro hingga meninggalnya pada tahun 1911. Dalem ini sekarang bernama Dalem Kaneman sesuai nama pemiliknya sekarang yaitu GKR Anom Adi Brata, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KRAy Pintokopurnomo. Selain untuk rumah tinggal, dalem ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain kursus menari yang dikelola oleh Yayasan Among Beksa. Dalem ini juga sering digunakan untuk menjamu makan malam bagi para wisatawan asing sekaligus sajian pagelaran tari.
     Dalem yang menghadap ke selatan ini memiliki pendapa yang cukup luas di bagian depan dengan seperangkat gamelan lengkap. Sebagian pendapa disekat dan digunakan sebagai ruang persiapan penari. Setelah pendapa, terdapat pringgitan yang seperti lazimnya pada rumah-rumah tradisional Jawa digunakan untuk pertunjukan wayang kulit (Pringgitan berasal dari kata ringgit = wayang). Berhubungan langsung dengan pringgitan adalah rumah induk atau ruang tengah dan tiga senthong (kamar) – senthong kiwa/kiri, senthong tengah, dan senthong tengen/kanan. Di sebelah timur ruang tengah terdapat ruangan yang sekarang difungsikan sebagai museum keluarga yang memuat berbagai benda-benda keluarga termasuk foto-foto keluarga.
      Di kompleks Dalem kaneman – yaitu di kanan dan kiri rumah induk dan pendapa – tinggal para ahli waris dari para abdi dalem yang magersari (diberi hak untuk tinggal oleh pemilik dalem). Seluruh warga magersari tergabung dalam dua buah RT (Rukun Tetangga).
3. Ndalem Benawan di Jalan Rotowijayan Cetak
     Disebut ndalem Benawan karena dulunya menjadi tempat tinggal GBPH Benowo, putra ke-36 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy. Retnohadiningrum. Ndalem ini terletak di jalan Rotowijayan tepatnya di sebelah barat ndalem Joyokusuman, sebelah utara jalan. Secara administratif, ndalem ini berada di wilayah Kelurahan Kadipaten. Sampai sekarang ndalem ini masih menjadi rumah tinggal ahli waris/keturunan GBPH Benowo, dan di sekitarnya masih ada rumah-rumah abdi ndalem yang magersari.
4. Ndalem Mangkubumen di Jalan Kadipaten Cetak
     Dibangun pada tahun 1865 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI, Dalem Mangkubumen didirikan sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom. Setelah putra mahkota naik tahta dalem ini ditempati oleh adik kandungnya GPH Mangkubumi sehingga kemudian lebih dikenal dengan nama Dalem Mangkubumen. Setelah GPH Mangkubumi wafat, adiknya yaitu GPH Buminoto menggantikannya menempati Dalem Mangkubumen sampai tahun 1928. Kediaman tersebut juga pernah dijadikan tempat tinggal sementara oleh Jenderal Sudirman pada Agresi Militer II Belanda. Mulai tahun 1983 sampai sekarang Dalem Mangkubumen digunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram dan SMA Mataram.
     Dalem Mangkubumen beratap dalam bentuk joglo (pendapa) dan limasan (rumah induk/dalem). Dalem ini berbentuk bujur sangkar dengan susunan ruangan yang terdiri dari ruang pertemuan/pendapa, ruang pentas wayang, dan ruang keluarga. Pendapa menggunakan blandar bersusun yang disebut blandar tumpang sari, semakin keatas semakin melebar, dan memiliki empat tiang pokok di tengah (saka guru). Konstruksi saka guru ini disebut sunduk kili, berfungsi sebagai pengikat bangunan supaya tidak berubah bentuk posisinya.
5. Ndalem Pakuningratan di Jalan Polowijan Cetak
     Dalem Pakuningratan dibangun pada tahun 1877-1921 secara bertahap pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII untuk menjadi kediaman Pangeran Purboyo atau putra mahkota yang kemudian diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono VIII. Selama ini bangunan Dalem Pakuningratan telah mengalami 3 kali pemugaran. Pertama, tahun 1926 atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII bangunan pendapa dihubungkan dengan pringgitan. Kedua, pada tahun 1928 dibangun bangunan teras belakang yang disebut cekokan. Sedangkan pada tahun 1939 semua lantai plesteran diganti dengan lantai ubin ukuran 20 x 20 cm bermotif warna kuning dan hijau serta cat pintu yang semula berwarna abu-abu diganti dengan warna hijau.
      Saat ini bagian pendapa Dalem Pakuningratan digunakan sebagai ruang kuliah ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film), institusi pendidikan yang melahirkan sutradara besar Teguh Karya dan Slamet Raharjo.
6. Ndalem Suryaputran di Jalan Suryaputran Cetak
     Pada masa Hamengku Buwono VI, Dalem Suryaputran merupakan tempat tinggal GPH Suryaputra. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono VI dari permaisuri. Kediaman tersebut sering kali digunakan sebagai tempat latihan kesenian Jawa. Setelah GPH Suryaputra wafat, selanjutnya oleh Sultan Hamengku Buwono VII dalem ini diberikan kepada putranya GPH Hadikusuma sehingga kemudian bangunan tersebut lebih dikenal dengan nama Dalem Ngadikusuman. Pada masa pendudukan Jepang, Dalem Ngadikusuman seringkali digunakan sebagai tempat berbagai macam kegiatan pemuda, misalnya olahraga dan kesenian. Kemudian pada tanggal 28 Juli 1952, Dalem Suryaputran dibeli oleh Dinas Pengawas Keselamatan Negara, yang selanjutnya dipakai sebagai tempat asrama polisi sampai sekarang.
7. Ndalem Wironegaran di Jalan Suryomentaraman Cetak
     Dalem ini dibangun sekitar abad ke-18. Awalnya dalem ini ditinggali oleh GBPH Suryomentaraman (putra ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII), kemudian ditempati oleh BRAy. Condrodiningrat (Putri ke-15 dari Sultan Hamengku Buwono VIII), sehingga pernah dikenal dengan nama Dalem Condrodiningratan. Sekarang Dalem ini ditempati oleh GKR Pembayun (Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X) dan suaminya, KPH Wironegara, sehingga disebut Dalem Wironegaran.
8. Ndalem Yudonegaran di Jalan Ibu Ruswo Cetak
     Ndalem yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) ini pada awalnya ditempati oleh GKR Dewi, Putri ke-38 HB VII dari permaisurinya GKR Kencono. Sekarang ini ndalem tersebut ditempati oleh GBPH Yudoningrat, Putri ke-13 HB IX dari KRAy Hastungkoro. Ndalem ini pernah dimanfaatkan sebagai Fakultas Sastra UGM sampai tahun 1960-an, sebelum akhirnya pindah ke kawasan Bulak Sumur. Di kompleks ndalem ini terdapat 35 rumah ‘ngindung’ dan beberapa unit bangunan yang dalam perkembangannya digunakan untuk Sekolah Menengah Farmasi dan Sekolah Apoteker (juga sejak tahun 1960-an). Kemudian, menginjak tahun 1987, Sekretariat PORDASI atau Perkumpulan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia berkedudukan di sini. Selain itu, ndalem ini seringkali dipergunakan untuk tempat resepsi pernikahan ataupun acara-acara khusus lainnya. Dan pada bagian pendapanya terdapat delapan kereta kuda yang siap disewa.
9. Ndalem Condrokiranan di Jalan Wijilan Cetak
     Sebelum bernama ndalem Condrokiranan, ndalem ini sempat dinamai ndalem Wijilan. Semula ndalem ini ditinggali oleh Adipati Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Mataram yang kemudian diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono III. Menggantikan beliau, ndalem menjadi milik Gusti Pangeran Wijil yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama KRT Wijil, sehingga ndalem ini dikenal sebagai Ndalem Wijilan. Selanjutnya ndalem diberikan kepada BPH Joyowinoto sebelum kemudian dijual kepada pemilik terakhir, GKR Condrokirono, istri KPH Danurejo VIII, Patih Yogyakarta terakhir. Karenanya hingga kini, ndalem ini dikenal dengan sebutan Ndalem Condrokiranan. Sekarang ini, Ndalem Condrokiranan atas seijin pemiliknya digunakan sebagai Museum Sonobudoyo unit II, untuk menampung koleksi Museum Sonobudoyo I yang kian banyak. Koleksi museum yang dapat ditemui di ndalem ini diantaranya tandu Pakualaman dan gamelan, juga hasil kerajinan, serta hasil pertanian dan perkebunan dari tiap kabupaten di DIY.
     Sebetulnya, seperti juga ndalem-ndalem lainnya, ndalem Condrokiranan merupakan rumah tradisional Jawa lengkap dengan pendapa, pringgitan dan gandok di kanan kirinya. Pada perkembangannya, ndalem ini mengalami beberapa perubahan mengikuti gaya Eropa lama dan baru. Meskipun begitu, bangunan aslinya masih dapat dikenali.





Plengkung/ pintu gerbang di kawasan Keraton jogja

Taukah anda plengkung/pintu gerbang milik keraton jogja dulunya ada 5 buah, tetapi sekarang yang masih utuh dan berdiri ada cuma 2 yaitu plengkung wijilan/tarunasura dan plengkung gading/nirboyo

Menurut sejarah, Kraton Yogyakarta mempunyai pintu gerbang (plengkung) yang berjumlah lima buah, yaitu Plengkung Tarunasura yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara. Plengkung Tarunasura ini oleh masyarakat sekarang dikenal dengan Plengkung Wijilan (pasti sudah tahu tempatnya).Kemudian Plengkung yang terletak di sebelah timur disebut Plengkung Madyasura.  letaknya dekat purawisata tembus jl Brigend katamso. Plengkung Madyasura ini ditutup pada tanggal 23 Juni 1812 untuk menghindari serbuan pasukan musuh. Karena ditutup, plengkung ini kemudian disebut dengan Plengkung Buntet (tertutup).

Yang ketiga adalah Plengkung Nirbaya, letaknya di sebelah selatan Alun-alun Selatan. Plengkung Nirbaya ini adalah plengkung yang sekarang kita kenal dengan Plengkung Gadhing. Klo dari alun-alun selatan kelihatan plengkung itu. Kemudian plengkung yang terletak di sebelah barat disebut Plengkung Jagabaya. Oleh masyarakat sekarang, plengkung ini kini disebut dengan Plengkung Tamansari. (letaknya arah ke jalan  patang puluhan jogja). Hal tersebut disebabkan karena letaknya berdekatan dengan bekas tempat peristirahatan Tamansari.

Yang terakhir adalah Plengkung Jagasura yang terletak di sebelah barat Alun-alun Utara. letaknya arah ke pasar ngasem dari kauman . Dari kelima plengkung tersebut yang sampai sekarang masih bisa kita lihat aslinya hanyalah Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan dan Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing.

Sementara itu, ketiga plengkung yang lain kini sudah tidak dapat kita lihat lagi, karena memang kini sudah tidak ada lagi. Plengkung Madyasura dibongkar pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke VIII, kemudian diganti gapura gerbang biasa. Sementara itu Plengkung Jagabaya juga telah diganti dengan gapura biasa. Deikian juga yang terjadi pada Plengkung Jagasura yang kini hanya tinggal bentuk gerbang gapura saja.

Plengkung Wijilan

Plengkung Nirbaya (Plengkung Gadhing) dan Plengkung Tarunasura (Plengkung  wijilan) keduanya terletak di Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, keadaan plengkung-plengkung tersebut kini nampak masih kuat dan kokoh, meskipun sekarang sedikit retak-retak akibat guncangan gempa bumi yang sangat dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah tahun 2006 dengan kekuatan 5,8 Skala Richter pada hari Sabtu, kira-kira pukul enam pagi.

 Plengkung Gading